10.8.14
Kartun Sejagad (Inspirator)
24.5.11
Belajar dari Anak Kecil
10.5.11
Senyum :)
5.1.11
Childish Vs. Oldish
Dewasa berarti seseorang telah mencapai usia yang tergolong cukup umur, 25 atau 30 tahun ke atas. Ada juga yang berpendapat bahwa seseorang baru dapat dikatakan telah dewasa setelah mereka menikah. Namun jika begitu, untuk orang yang belum menikah hingga 40an tahun atau bahkan 50an belum bisa dikatakan dewasa dong. Bagaimana dengan anak kecil, atau remaja, yang usianya masih tergolong sangat muda, mereka telah dinilai orang lain di sekitarnya ‘sudah dewasa’ lantaran sikap atau perilakunya. Sebenarnya dewasa yang seperti apa yang ingin gw bahas di sini??! *kok malah nanya sendiri ya*
Meskipun gw belum termasuk ke dalam golongan orang dewasa versi pertama, yaitu yang berusia 25 tahun ke atas, tapi gw akan mencoba mencurahkan arti kedewasaan dari versi ketiga, yaitu anak remaja yang (mungkin saja) dinilai orang lain ‘sudah dewasa’ lantaran sikap dan perilaku gw. Yaa meskipun gw juga udah merasa bukan lagi anak remaja, tapi belum juga berumur dewasa, karena dibilang remaja udah ketuaan dan dibilang dewasa juga masih bau jahe *jangan bau kencur ya, bau jahe aja lebih seger ^^.
Mungkin teman-teman akan sangat kagum dan senang jika melihat seorang anak/bocah yang selalu menuruti kemauan dan perintah orang tuanya. Atau ketika menyaksikan seorang anak yang (dalam bahasa betawi) idep membantu orang tuanya meskipun tanpa diminta. Mengikuti segala aturan yang telah disampaikan orang tuanya, larangan, maupun perintahnya, yang dalam hal ini anak tersebut belum dikategorikan orang dewasa. Lalu, dari mana sikap dan perilaku kedewasaan anak2 seperti itu!? Apakah mereka telah dewasa sebelum waktunya??! *dewasa sebelum waktunya maksudnya apa ya?!*
Menurut gw yang sok tau ini sih mungkin saja kedewasaan sikap anak2 yang tak lazim dijumpai ini adalah hasil dari didikan orang tua mereka. Kepandaian orang tua mereka dalam memberikan pengertian dan contoh dalam bersikap dan berperilaku yang baik. Mengajarkan sopan santun, memerintahkan untuk belajar yang rajin, tidak brutal di sekolah, pulang sekolah jangan langsung main, melarang membawa barang mewah ke mana-mana, melarang pergi jauh sendirian, dan banyak lagi.
Penyampaian yang tepat kepada anak mereka akan direspon secara baik. Akibatnya anak itu selalu terkesan baik, tidak nakal seperti anak2 lain pada umumnya. Lalu, ke mana sifat kekanakan mereka yang (mungkin) seharusnya ada dalam diri mereka yang memang masih anak2!? *qo’ kayak ka’ Seto aja ngomongin anak2, anak2 dan remaja aja deh maksudnya ya :D
Frankly, kasihan juga jika anak2 seperti mereka itu tidak merasakan keindahan masa anak2 atau remaja mereka yang identik dengan keceriaan, bebas, lepas, tanpa beban tanggung jawab ataupun masalah, dan sebagainya yang biasanya melintas dipikiran orang2 dewasa.
Jika taste tersebut dilewatkan begitu saja oleh anak2 dan remaja, maka rasa penasaran atas posisinya sebagai anak2 atau remaja akan timbul di masa yang lain, tak lain adalah di masa dewasa mereka. Ya, di masa dewasa versi satu.
Tak sedikit orang yang tergolong berumur dewasa, namun perilaku dan sikap mereka seperti anak2. Hal tersebut bisa diperkirakan akibat masa anak2 ataupun masa remaja mereka yang tersita. *mengapa gw hanya memperkirakan, karena pernyataan ini tidak didukung dengan penelitian sebelumnya, hanya dari insting gw sendiri dan wawancara kecil2an kepada para steckholders.
Beberapa narasumber, yang tak lain adalah teman2 gw sendiri, menyebutkan bahwa Odah (nama samaran) selalu mencari kesenangan karena masa kecilnya yang suram. Ketika kecil ia nggak dibolehkan main sana-sini oleh orang tuanya, sering sekali dimarahi, dihukum layaknya orang dewasa jika nakal sedikit, komunikasi orang tuanya sangat kaku, dsb. Dan hal tersebut membuatnya menjadi orang yang berjiwa pemberontak, senang akan pemborosan, glamour, temperamental, mudah berbohong kepada orang tua, dsb. ….! Dan, ternyata benar kata….*siapa ya gw lupa*, bahwa orang tua tidak perlu menyalahkan kenakalan anak, karena apa yang mereka temukan di masa itu adalah hasil didikan di masa lalu….! Tapi kita jadi anak juga harus tau diri juga lahh.., ya gak tong?? ;)
Lain hal juga dirasakan oleh Ucok (nama samaran juga), seorang teman gw yang udah lama ngerintis usaha di beberapa bidang pada usianya yang terbilang masih muda, *ya kayak gw ini masih muda :D*. kalau dilihat casing-nya, memang ia terlihat bahagia tenteram sentosa sejahtera, tapi kalau dilihat dalemnya, maksudnya isi hati atau perasaan yang manusia biasa gak akan bisa melihatnya, nggak setenteram yang dilihat. Karena gw manusia biasa, jadi gw tau-nya dari penuturan beliau sendiri :D.
Beliau yang telah sukses itu suatu kali mengeluhkan suka dukanya menjadi pebisnis yang sukses, apalagi ia mencapai kesuksesan di masa muda yang menjadi impian setiap pemuda. Tanpa sadar, di balik kesuksesannya ia merasa ada yang hilang, ada yang terlewat, ada yang tidak lengkap dalam hidupnya. *apakah seorang pendamping hidup??* oh no! karena pada saat itu dia juga masih kuliah dan belum kepikiran mau nikah.
Lalu apa…?!, ternyata, dia itu menyesal karena telah melewati masa remajanya begitu saja. Ia mulai merintis usaha ketika masih remaja (ABG lebih tepatnya). Lagi masa seneng2nya tuh padahal, belajar sambil main, main sambil belajar, jalan2, ngumpul sama teman2, gitu dehh.., tapi bagus juga sih sebenernya masih remaja udah ada pikiran mau usaha, dan langsung dijalankan pula. Tapi, mungkin apa yang dia lakukan itu terlalu over untuk seorang remaja, hingga dia lupa kalau saat itu harusnya dia mencari jati diri dulu dengan berekplorasi di segala hal, termasuk senang2, he :D
Jadi begitulah kalau kita manusia tidak pintar menempatkan posisi sesuai masanya. Tapi, kalau memang udah takdir atau jalan hidupnya kayak gitu susah juga sihh…, haha, apasi!
Hmmm…, ada satu lagi nih cerita, tentang seseorang yang masih tergolong remaja, tapi dia udah menjalankan kehidupan layaknya orang dewasa. Bukan sebuah pengakuan langsung darinya, tapi efeknya gw lihat sendiri dari sikapnya.
Jadi si itu, *si itu?* iya, dia lah pokoknya.., udah menjalani hidup sebagai seorang istri, mengurus suami, melayani suami *upps*, mengatur rumah tangga, dan lain2,, bahkan sebagai ibu…, ngurus anak, mendidik anak, ngempu, rempong dah pokoknya!
Biasanya nihh…, yang lain, yang belum mengalami, mau buru2 mengalami masa ini, hayoo ngaku!! Ya kan, ya kan!!? *hah, apah? Gw? Gak usah ditanya! Lho!! Gak deng*
Sepertinya, dia masih belum nerima keadaan bahwa dia sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu, harus bersikap selayaknya seorang yang (terpaksa) dewasa. Terlihat dari perilakunya yang masih ke-ABG-an,, masih mau main alias ngumpul bareng teman2, pundung (sunda) alias ngambek (betawi) jika ditinggal jalan2 sama teman2 sepermainannya,, dengan kata lain…, dia tuh masih kepingin main2, seneng2, habiskan waktu habiskan uang (untuk hal2 + pastinya).
Ckck…, dia telah melewatkan sisa masa remajanya dengan melompat lebih jauh. Hmmm, mungkin harusnya dia (dan kita juga) melewati masa peralihan dulu kali yaa…, yaitu peralihan masa remaja ke masa dewasa *yg kayak gimana tuhh, baru denger!?*. Lagi-lagi pake kata ‘mungkin’, ya maklum karena memang gw bukan ahlinya, bukan psikolog, cuma pake insting atau naluri seorang manusia biasa ;).
Yaudah dehh gitu aja teman2 & followers, semoga pelajaran dari pengalaman beberapa teman gw ini bermanfaat untuk kalian. Pesan terakhir dari gw *ciahh.., kayak lagi sakaratul maut* maksudnya pesan gw dari postingan ini…, hendaklah memanfaatkan usia dengan sebaik-baiknya,, sesuai masanya, dan sesuai fungsinya,….perjalanan masih panjang, atur langkah, dan semoga sukses J.
9.11.10
Jakarta Punya Siapa
Jakarta dikepung banjir dan macet. Kata Benyamin S. “Jakarta kebanjiran…..”. Kalau lihat lagi film ‘Si Doel Anak Sekolahan’ Jakarta tak sesumpek dan sekelabu sekarang. Dulu begitu hijau, fresh, damai, tenang, dan nyaman. Yaa…meskipun Jakarta dulu adalah sebuah kampung yang masih banyak kebun dan sawah.
Sekarang image Jakarta tak lagi sebuah perkampungan yang jalannya masih tanah, tapi sekarang sudah menjadi jalanan aspal, bahkan jalan setapak pun di baluri semen. Sebuah kota yang terkesaan mewah dan elegan, karena dihiasi gedung-gedung bertingkat dengan dinding berkaca. Lampu-lampu penerang jalan sekaligus pemboros energi kota ini. Belum lagi mobil-mobil mewah yang lalu lalang kian bertambah jumlahnya tiap tahun.
Sekarang lagi jamannya Jakarta dilanda banjir dan macet. Dua kata itu sudah menjadi image Ibu Kota Indonesia ini. Agak malu saya menyebutkan image banjir dan macet itu milik ibu kota Negara. Lalu…??? Kenapa ya Jakarta bisa jadi kota yang serunyam ini??? APA dan SIAPA yang menyebabkan semuanya menjadi seperti ini??!!
Jakarta itu kota yang sempit. Saya katakan sempit karena jumlah masyarakatnya sangat banyak, namun wilayahnya tak cukup untuk menampung masyarakat yang sebanyak itu. Saking banyaknya, ada yang rela tinggal di bukan tempat tinggal, seperti di pinggiran sungai, pinggir rel kereta, di kolong jembatan, dan lain sebagainya. *mau nyanyi dulu ah sedikit “lebih baik di sini, rumah kita sendiri…, segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini…..” apa hubungannya dengan kota Jakarta?!
Lagu ini sebenarnya hanyalah sindiran bagi masyarakat-masyarakat yang hijrah ke kota sumpek ini dan mereka tak tahu arah mau apa dan ingin ke mana. Padahal lebih baik mereka tetap tinggal di daerah mereka masing-masing dengan tenang dan bersyukur atas keadaan yang meskipun hanya sekedar cukup untuk hidup *tentunya cara bersyukurnya ada usahanya juga. Yaa daripada keberadaannya hanya membuang-buang ongkos yang ujung-ujungnya hanya membuang-buang sampah tanpa memberikan kontribusi ke kota yang katanya memiliki sensitivitas tinggi ini.
Kalau membicarakan APA atau SIAPA yang menyebabkan kota Jakarta sering kebanjiran dan macet, jawabannya bisa beragam, sesuai subjek yang ditanya. Jika yang ditanya adalah pihak pemerintah, maka mereka akan menyalahkan masyarakat. Jika yang ditanya adalah masyarakat, maka sebagian besar tentunya akan menyalahkan pihak pemerintah.
Menurut saya sih yang salah dua-duanya. Ya, pemerintah sekaligus masyarakatnya. Saya masuk dalam kategori subjek, maka jawaban saya pun subjektif, betul tidak!? Dan perlu diketahui, setiap jawaban sebenarnya hanyalah berupa opini, setuju atau tidak para pembaca, itu semua tergantung pola pikir tanggapan para pembaca sendiri. Di sini saya hanya berperan sebagai seorang rakyat jelata yang telah merasakan nikmatnya kesengsaraan rakyat kecil namun berusaha ingin berempati kepada pihak pemerintah juga. *kesengsaraan dalam arti menerima akibat dari kurangnya kebijaksanaan dari pemerintah.
Saya mengatakan kedua belah pihak yang bersalah karena memang tidak secara mutlak pihak pemerintah atau masyarakat yang melakukan kebodohan-kebodohan. *bukan berari saya pintar sendiri karena mengatakan mereka melakukan kebodohan, karena tentunya saya masuk ke dalam kategori masyarakat. Sudah bagus dengan tata kota yang hijau dengan tempat resapan air yang banyak, tapi pemerintah membiarkan orang-orang yang entah datangnya dari mana membangun bangunan-bangunan besar yang muatannya bisa untuk 50 kepala tapi ternyata hanya dihuni 2-3 kepala. Belum lagi investor-investor asing yang dibiarkan merebut lahan milik tuan rumah, dan selanjutnya lahan tersebut dibangun gedung-gedung yang manfaatnya hanya untuk sekedar hura-hura seperti mall, dan bangunan-bangunan lain yang tidak mempedulikan wilayah resapan air yang mereka rebut.
Belum lagi segala jalanan diaspal dan disemen demi memanjakan orang-orang berduit yang tidak ingin hidup susah dan ingin terlihat mewah. Seharusnya mereka jangan hanya memikirkan keuntungan dengan mengharapkan pajak bangunan yang menjadi imbalannya dan lain sebagainya, tetapi juga memikirkan efek yang akan timbul dari segala keputusan itu. Kalau sudah begini ya percuma saja, keuntungan yang telah didapat ujung-ujungnya dihabiskan untuk perbaikan kota. Lalu apa yang didapat?? Capek, pusing, karena terlalu banyak gunjingan dari masyarakatnya sendiri.
Pemerintahan yang mana, yang patut disalahkan??? Yang dulu hingga sekarang juga sama-sama pernah khilaf :D. Tetapi, berhubung dampaknya baru terasa sekarang-sekarang ini mungkin yang lebih berperan dalam keputusan untuk melakukan langkah bodoh tersebut adalah pemerintahan terdahulu, yang kemudian langkah-langkah tersebut dicontoh dan diikuti pemerintahan selanjutnya.
Kita semua bodoh!!!, tidak berlaku lagi untuk saling menyalahkan. Kini waktunya introspeksi diri.
29.8.10
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi ??
Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia kian meningkat. Pertumbuhan ini tak mampu dikendalikan oleh pihak pemerintah maupun intern rumah tangga itu sendiri. Hal tersebut mungkin juga disebabkan karena faktor ketidakseimbangan antara angka kelahiran dengan angka kematian, akibatnya jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kematian.
Lonjakan jumlah penduduk ini serta merta membawa dampak pada kehidupan warga Negara. Menyempitnya luasan lahan permeter persegi per orangnya, meningkatnya kebutuhan pangan dalam negeri, serta meningkatnya kebutuhan lapangan pekerjaan di segala bidang. Poin terakhir merupakan dampak yang paling utama dari peningkatan jumlah penduduk karena faktor ini dapat melahirkan dampak-dampak baru. Kepadatan penduduk dengan keterbatasan penyediaan lapangan kerja menjadi kendala utama pada keadaan perekonomian Negara serta kesejahteraan penduduk itu sendiri.
Semestinya, dengan banyaknya penduduk dapat menciptakan kondisi ekonomi suatu Negara menjadi semakin baik karena dengan banyak penduduk berarti banyak pemikiran, beragam ide, karakteristik, keterampilan, dan keahlian. Hal yang demikian sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam proses pengembangan ilmu dan keterampilan untuk kebutuhan perkembangan bidang tertentu. Keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan di tiap bidang tidak selalu sama dan bersifat unique, dan keunikan tersebut akan menunjang antara bidang yang satu dengan yang lain. Semakin beragam keahlian dan keterampilan serta baik pengelolaan diri manusia itu sendiri maka Negara tersebut akan semakin cepat dan luwes dalam menggapai perkembangan dan kemajuan, karena komponen-komponen yang dibutuhkan untuk mengembangkan bidang tertentu telah tersedia. Perlu ditekankan bahwa selain keahlian maupun keterampilan yang dimiliki para penduduk perlu pengeksplorasian yaitu dengan jalan pengelolaan keterampilan tersebut dari pemilik keterampilan/keahlian maupun dari pihak lain yang mampu memberikan dukungan baik moril maupun materil, dalam hal ini contohnya seperti pemerintah.
Indonesia merupakan Negara yang banyak penduduknya, terlebih lagi kekayaan budaya dan adat istiadat yang dimiliki, namun hingga kini belum dapat dirasakan kejayaan seutuhnya baik oleh pihak pemerintah maupun penduduknya sendiri. Padahal, bila diperhatikan potensi yang dimiliki Negara yang makmur ini sangat besar, sumber daya alam yang melimpah, serta sumber daya manusia yang banyak. Mengingat kedua sumber daya tersebut sangat melimpah di negri ini, ada potensi kemajuan dan perkembangan di segala sektor/bidang. Ilmu dalam bidang-bidang tertentu memiliki manfaat dan keunggulan masing-masing. Satu sama lain saling menyokong dan menunjang.
Kompetisi-kompetisi atas bidang tertentu yang dibangun dari berbagai pihak, dari berbagai organisasi, maupun dari berbagai persekutuan memiliki misi meningkatkan potensi serta peningkatan mutu bidang tersebut. Tak ayalnya dalam kehidupan di perkotaan, manusia berlomba-lomba untuk memperoleh pekerjaan pada posisi kepeminatan. Yang menjadi ‘masalahnya’ adalah kepeminatan tersebut berdasarkan apa. Jika ditinjau lebih jauh, kepeminatan mereka berdasarkan ‘orientasi persaingan’ artinya banyak dari mereka termakan iming-imingan kesejahteraan hidup yang mengarah pada ‘orientasi uang’. Dengan kata lain, mereka yang bekerja dengan misi memperoleh kesejahteraan berupa “gaji gede” adalah bekerja dengan ‘orientasi uang’.
Mereka tidak menyadari sesungguhnya mereka lebih sering mengalami keterpurukan hanya dengan misi mendapat ‘penghasilan besar’. Jika dicermati, kesejahteraan yang dicari dengan berorientasi demikian hanya bersifat jangka pendek. Dengan kata lain manusia-manusia ini hanya “menerima (gaji) - membelanjakan (konsumtif)”. Mengapa tidak berpikir untuk menjadi manusia yang “menerima (gaji)-memberi (pekerjaan atau mengajarkan ilmu/keterampilan) – menerima (gaji)”. Rantai pertama menunjukkan bahwa kita hanya sebatas bekerja demi memperoleh nafkah untuk dikonsumsi sendiri, sedangkan rantai kedua menunjukkan bahwa kita dapat memperoleh kesejahteraan dengan jalan menyejahterakan orang lain.
8.8.10
Mau dibilang 'Demokratis'? atau 'Tak Berpendirian'??
27.5.10
Hakikat Manusia
Manusia merupakan makhluk Allah SWT. yang paling mulia, terlihat pada awal penciptaannya para malaikat dan jid diperintahkan Tuhan untuk bersujud kepada manusia (Adam) sebagai tanda penghormatan. Kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada manusia atas dasar keputusanNya menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hakikatnya sebagai makhluk, manusia diciptakan hanya dari setetes mani. Dari setetes mani tersebut dijadikannya berbentuk hingga menjadi bentuk manusia melalui proses yang sangat rumit. Proses penciptaan manusia ini disempurnakan di dalam rahim yang cukup kokoh untuk menopang cabang bayi, dan di dalam rahim tersebut dicukupkannya nutrisi dan zat-zat bermanfaat lainnya agar terjadi pertumbuhan dan perkembangan untuk calon manusia.
Hingga pada akhirnya ia terlahir ke dunia dalam keadaan lemah dan bodoh (tidak tahu apa-apa). Ia tidak mampu menopang dirinya sendiri bahkan tidak mengerti segala hal yang dapat ia lihat dan ia dengar. Bahkan, ketika ia merasa lapar, haus, sakit, dan sebagainya ia hanya bisa menangis. Sejalan dengan kehidupan pemberian Tuhan, makhluk jahil itu pun tumbuh dan berkembang dari rezeki yang telah dilimpahkan. Rezeki pemberian Tuhan ia nikmati sepanjang hari, sepanjang bulan, hingga sepanjang tahun. Lama kelamaan ia mengalami kemajuan dari lemah menjadi kuat, dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi cerdas, dan itu semua atas limpahan ilmu yang Tuhan turunkan untuknya baik secara langsung (Al-Qur’an) maupun secara tidak langsung (kejadian di setiap gejala hidup yang dapat diambil hikmahnya).
Namun, dari kesempurnaan dan keelokannya, dari kesehatan dan kenikmatan rezeki yang telah dikaruniai, dan dari ilmu yang telah diberikan, manusia sering lupa kepada Pemiliknya. Ia tak menyadari bahwa tubuh yang sempurna, yang telah ia nikmati kegunaannya sepanjang tahun hanya merupakan titipan Tuhan selama ia hidup. Entah manusia kurang menyadari ataukah kurang memahami bahwa segala sesuatu yang terlihat maupun yg tidak terlihat diberikan Tuhan untuknya adalah cara Tuhan dalam mengajarkan manusia untuk bersyukur. Begitu juga atas kekurangan (lahir atau batin) yang telah ditentukan kepada diri setiap manusia, dari kekurangan tersebut Allah SWT. mengharapkan agar manusia ikhlas dan mampu membentuk dirinya sendiri menjadi manusia yang sabar dan kuat dalam menerima kekurangannya, dan jika perlu ia mampu menyikapinya dengan tanggapan yang positif sehingga manusia itu sendiri mampu menjadikan dirinya manusia yang luar biasa.
Selain itu, Tuhan memberikan keragaman karakteristik, perbedaan kelebihan dan kekurangan manusia, keragaman ilmu yang diperolehnya, perbedaan jumlah harta yang dimiliki setiap orang, dsb. Hal-hal tersebut telah ditetapkan Tuhan sebagai cara Dia dalam mengajarkan manusia untuk saling berbagi dan saling melengkapi satu sama lain untuk menutupi kekurangan yang ada dalam dirinya.
24.2.10
Degradasi Lingkungan
17.2.10
Sang Pemburu Mimpi
Hati mereka memiliki top power yang dapat menstabilkan hati yang labil. Baginya, keteguhan hati merupakan tameng yang berperan sebagai pelindung ketika mata pedang menghunus.
Tak ada seorang pun yang mampu memeranginya, sekalipun mereka bersama sekutu-sekutunya. Dan tidak ada satu hal pun yang dapat merebahkan keteguhan hati sang pemburu mimpi itu.
9.2.10
Putih dalam Gelap
bibi : Kamu sudah remaja, apalagi masa remajamu
berumur tua, sebentar lagi dewasa, mungkin
saatnya kamu untuk memikirkan pasangan hidup.
gadis : Aku merasa kini belum saatnya,...masih terlalu
banyak yang ku pikirkan di luar urusan itu.
bibi : ..................!!
gadis : Aku cukup merasakannya, tanpa harus memikirkan.
Karena terkadang apa yang kita pikirkan tidak
sejalan dengan yang kita rasakan.
bibi : (to the point) Laki-laki seperti apa yang kamu
harapkan?
gadis : (menghela napas) Aku ingin lelaki itu seperti ayah!!!
seperti ayah yang keras kepala
seperti ayah yang egois
seperti ayah yang tidak begitu peduli
dan, seperti ayah yang pelit ...
bibi : Mengapa demikian??!!? Tak adakah yang jauh
lebih baik perangainya?
gadis : Memang demikian..., aku senang, sebab ayah keras
kepala dalam kebenaran dan tidak pernah
menolerir kebathilan.
Ayah egois, jika ia merasa tidak ada satu pun yang
mampu mewujudkan suatu kebaikan.
Ayah tidak begitu peduli ketika ia tahu bahwa
teman-temanku begini dan begitu, karena baginya
berteman itu dengan siapa saja, dan kewajiban bagi
kita mempengaruhi mereka ke arah yang lebih baik
tanpa harus terpengaruh kepada yang buruk.
Ayah pelit, sewaktu aku meminta ini dan itu, yaitu
hal yang dapat membuatku lalai dari kewajibanku.



