Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

10.8.14

Kartun Sejagad (Inspirator)

Gara-gara blogwalking  yang berawal dari searching via google dengan keywors “karya film upin ipin” saya menemukan satu artikel yang berjudul “Upin dan Ipin, bisa menghancurkan bangsa Indonesia”.

Mungkin teman-teman ada yang berpendapat ini ‘sudah basi’, ‘berita lama’. Namun kenyataannya ternyata masih ada yang mengungkit-ungkit ‘hal ini’. Dan bagi saya ‘tak ada kata terlambat untuk menulis’ xD

Dari judulnya yang menurut saya hiperbola, tentu saya sebagai manusia yang memiliki naluri penasaran  membuka tautan tersebut. Hanya ada dua paragraf, dan perkiraan saya tidak lebih dari 100 kata.

Apakah isi artikel tersebut perlu saya kutip di sini?
Saya rasa tidak perlu, karena saya yakin teman-teman lebih cerdas dengan searching sendiri via se (search engine) dengan keywords judul artikel tersebut :D.

Artikel yang dipost-kan pada tahun 2010 itu, menyebutkan bahwa pada salah satu episode film animasi tersebut menampilakn lagu “Rasa Sayange” versi Malaysia. Mereka mengkhawatirkan jika seandainya anak-anak Indonesia lebih hapal dengan lagu tersebut dengan versi Malaysia daripada lagu aslinya.

Menurut saya tulisan tersebut diarahkan pada urusan politik, yang sebenarnya mungkin hanya urusan budaya. Mengapa harus dipermasalahkan ke arah sana, padahal bukankah ini menyangkut pendidikan anak??

Film animasi yang (kata KOMPAS) terkenal di 17 negara itu saya akui memang bagus, mencontohkan sikap anak-anak yang baik, santun dan ceria sesuai usianya. Selain itu, film tersebut menunjukkan norma-norma pendidikan yang bagus seperti keberanian, kerajinan, kecerdikan, persahabatan, kesederhanaan dan kebijaksanaan. Jika teman-teman termasuk penonton setia upin ipin pasti akan terbayang salah satu tingkah pelakon kartun tersebut, di antaranya yaitu sikap upin ipin dan teman-temannya yang berani mengajukan pertanyaan dan jawaban kepada cikgu ketika sedang belajar di kelas, bercerita tentang cita-cita mereka di depan kelas, “kita orang nak jadi astronot cikgu...” ucap upin dan ipin saat bicara di depan kelas.

Bahkan Fizi yang ketika itu mengatakan ingin jadi petugas kebersihan (bahasa kasarnya: tukang angkut sampah), sang cikgu pun menyampaikan kehebatan Fizi dan menjelaskan kepada murid-murid bahwa semua pekerjaan adalah baik selama membawa manfaat kepada orang lain. Tutur kata cikgu yang lembut dan bijak tersebut membuat kagum murid-murid dan tidak menayangkan sikap saling mengejek.

apakah teman-teman ingat dengan episode ini?

Sikap rajin yang dapat dicontohkan dalam film tersebut juga dapat ditunjukkan oleh Ismail bin Mail, alias Mail. Anak laki-laki yang rajin membantu mamaknya berjualan ayam goreng, dua seringgit :D. Dan juga Mei mei si gadis kecil keturunan cina yang rajin belajar dan terlihat paling pandai karena bercita-cita nak jadi cikgu pula. Saya suka...saya suka... ^^

Masih banyak cerita bagus dan menggemaskan dari film tersebut, karena saya sendiri penikmat film Upin Ipin ;) :D . bahkan saya menilai sendiri bahwa pencipta film animasi itu sepertinya memang sangat mengetahui dunia anak-anak.


Dari sini muncul pertanyaan, dalam penayangan film tersebut apakah masih perlu mendahulukan kepentingan politik ?? (politik yang dalam hal ini diartikan sebagai pelaksanaan kebijakan publik). Ataukah lebih penting mengutamakan pendidikan?

Kalau boleh berpendapat, mengenai reaksi dan kritikan tentang film upin ipin yang dinilai sebagian orang dapat menghancurkan bangsa Indonesia, tidak perlu dibesar-besarkan. Mungkin memang akibat dari kalimat seorang penulis yang dapat membuat para pembaca menjadi terprovokasi dsb., hal yang sebenarnya bisa diatasi sendiri justru dianggap masalah besar.

Boleh lah mengenai lagu “Rasa Sayange” yang disadur orang Malaysia, memang secara etis mungkin kurang diindahkan orang-orang kita. Namun, hal tersebut menurut saya sebenarnya bisa diatasi sendiri. Semua bergantung bagaimana para orang tua, kakak, guru, pandai-pandai menjelaskan hal tersebut. Bisa saja kita menjelaskan kepada anak-anak yang kurang mengerti bahwa lagu tersebut aslinya begini....., itu lagu dari sini...., asal daerah ini..., dsb. mungkin hal ini juga menjadi PR untuk para guru kesenian untuk lebih mengenalkan kesenian dan budaya bangsa :D. Karena ada pepatah mengatakan, bahwa ‘Jika kita kuat dan pandai, maka musuh sehebat apapun mereka tidak akan berhasil (berhasil mengganggu kita)’. Bukan berarti kata ‘musuh’ tersebut bermakna konotasi, alias hanya kiasan, dan bermakna sebenarnya hanya jika mereka terbukti memiliki niat :)

Terlepas dari masalah tersebut, justru saya merekomendasikan anak-anak untuk menyaksikan film ini, daripada terbiasa menonton film yang tidak ada unsur pendidikannya sama sekali, karena menurut saya urusan pendidikan anak tidak ada toleransi sebab apa yang ditanamkan sejak kecil akan menuai perilaku mereka ketika remaja bahkan dewasa. Dan masalah toleransi, dunia anak-anak tetap membutuhkan hiburan, bermain, sumber imajinasi, yang nantinya akan membentuk karakter diri. Karena jika itu terlewati, bisa saja mereka akan mencarinya di usia yang tak lagi anak-anak :D

Saya bukan orang psikologi, apalagi psikolog anak. Tapi saya punya adik kecil yang menjadi inspirasi bagi saya tentang dunia anak kecil, dan saya pun pernah kecil :).


24.5.11

Belajar dari Anak Kecil


Anak kecil itu dikenal sebagai manusia yg penuh keluguan, kepolosan, belum mengenal dengan baik sesuatu yg baik dan yg buruk, menganggap semua yg tampak di hadapannya adalah sama dan patut dilakukan atau dicoba, tak peduli itu berakibat baik atau buruk bagi dirinya maupun orang lain. Untuk itu, anak kecil merupakan amanah dari Tuhan.

Mereka masih butuh bimbingan agar lebih mengerti, butuh arahan agar lebih memahami perbedaan baik dan buruk segala sesuatu. Maka tak jadi masalah jika anak kecil melakukan segala hal yg sebagian kita anggap suatu kesalahan, karena memang ia belum pernah tau bahwa itu adalah suatu kesalahan. Memainkan pisau, alat elektronik, bermain di ketinggian, bermain di pinggir kolam , dll.

Semua itu kita (orang yg lebih dewasa) anggap sebagai suatu kesalahan karena ada rasa khawatir, khawatir atas keselamatan anak itu sendiri. Dan mereka…, belum pernah tau baik buruk segala hal yg akan mereka lakukan itu, termasuk juga rasa khawatir kita terhadapnya.

Itu semua…karena mereka belum merasakannya, merasa khawatir, takut, dll., tetapi yg ada hanyalah rasa penasaran. Ada sebuah kutipan dari seorang da’i terkenal yg menyebutkan bahwa “Allah mengangkat rasa putus asa pada diri anak kecil”, dan itu menunjukkan bahwa anak kecil tak akan pernah berhenti untuk mencoba melakukan hal-hal yg mereka belum dapatkan arti baik dan buruknya, di mana baiknya, dan di mana buruknya.

Namun, di saat2 jahil seperti itu, banyak hal positif yg bisa kita tiru dari seorang anak kecil. Karena keluguan dan kepolosan mereka, mereka sendiri tak pernah mengerti apa yg diperbuatnya. Mungkin mereka tidak tau bahwa berbohong itu secara perlahan bisa menghilangkan rasa kepercayaan orang lain, mereka tidak tau bahwa jujur, yg lebih sering mereka lakukan, itu dapat menyenangkan hati lawan bicaranya dan menjauhkan lawan bicaranya dr prasangka buruk. Mereka juga tidak mengerti, rasa dendam atau membalas perbuatan orang lain itu dapat meningkatkan permusuhan. Bahkan memaafkan orang lain pun mereka belum mengerti maknanya, padahal itu adalah hal yg paling sering mereka lakukan. Itu semua karena memang mereka hanya bisa melakukan dan merasakan, tanpa panjang lebar memikirkan akibat atau manfaatnya layaknya orang dewasa.

Dan hanya kita, orang2 yg lebih dewasa, yg lebih bisa memahami arti segala perbuatan, baik dan buruk yg akan diakibatkan darinya. Tetapi anehnya, justru kita melakukan hal yg telah kita ketahui buruknya, dan meninggalkan sesuatu yg telah kita tau manfaatnya.

Pertama adalah JUJUR. Jika ditanya suatu kejadian, perasaan, ataupun suatu pendapat, anak kecil akan mengungkapkannya sesuai kebenaran yang mereka lihat dan mereka rasakan. Mereka berbuat atau mengerjakan sesuatu sesuai perintah yg diberikan orang tua, keluarga, maupun gurunya, selama kita memberikan arahan dengan baik dan tepat, serta dengan cara yg menyenangkan. Kita? Lebih sering mengungkapkan sesuatu sesuai akibat yg akan ditimbulkannya. Jika ditanyakan tentang suatu perkara, perasaan sedih dan senang, ataupun pendapat kepada orang lain kita lebih cenderung memikirkan akibat dari jawaban yg akan kita berikan. Ada perasaan khawatir dapat menyinggung perasaan orang lain, takut salah bicara dan dapat merugikan orang lain atau keluarganya, dsb., akibatnya…, kita menyatakan sesuatu dengan kebohongan, hanya karena kata ‘demi’, demi menjaga perasaan orang, demi menyelamatkan orang terdekat, demi keuntungan sendiri (mungkin), dll.

Kedua adalah MELUPAKAN KESALAHAN ORANG LAIN. Jika kita melihat dua anak kecil yg sedang marahan atau tidak akur, maka hal itu tidak akan berlangsung dalam waktu yg lama, mungkin pada hari itu juga mereka sudah bermain bersama lagi dan terlihat akur kembali seolah tak pernah ada masalah. Mereka tak peduli dengan keadaan sebelumnya dan enggan membahas atau mengingat-ingat kembali masalah mereka sebelumnya. Sedangkan kita? Jika sedang tidak akur atau bermasalah dengan seorang teman, sahabat, ataupun anggota keluarga, mungkin memerlukan waktu hingga berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, padahal kita sendiri telah mengetahui sebelumnya bahwa seorang Muslim tidak diperkenankan bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari’. Mungkin karena kita cenderung terus memikirkan kerugian yg telah kita terima dari kesalahan yg diperbuat orang lain, cenderung selalu mengingat-ingat kembali kesalahan orang lain yg tidak berkenan di hati kita, serta terus merasakan rasa sakit hati tanpa berusaha mengenyahkan dan melupakannya.

Ketiga yaitu PANTANG MENYERAH. Anak kecil yg selalu ingin tau segala hal, selalu penasaran dengan sesuatu yg mereka anggap baru, mereka tidak akan berhenti hingga telah menemukan manfaatnya, atau bahkan hingga menemukan keburukan yg akan mereka dapatkan. Namun juga terkadang mereka tak akan pernah puas melakukannya hingga bosan dan menemukan hal baru lainnya meskipun telah mengetahui manfaat dan keburukan untuk dirinya. Dan kita? Belum mencoba saja sudah memikirkan keburukannya, mengira-ngira kerugian yg akan diterima, merasa tak ada keuntungan yg berarti, dan sebagainya yg membuat hati gentar untuk melakukan suatu hal. Sekali menemukan hal buruk, jatuh di satu lubang, mengalami sedikit kerugian, mungkin kita akn berhenti dan tak mau melanjutkan hal itu.

Mengapa kita tidak belajar dari anak kecil, yg tak gentar menghadapi kesulitan saat menjalankan sesuatu, yg tak pernah menyimpan lama2 perasaan sakit hati ataupun kecewa, dan yg senang mengungkapkan sesuatu apa adanya tanpa mengada-ada demi kata ‘demi’.

Hidup itu untuk dijalankan, untuk mencoba, dan semuanya itu proses belajar, bukan dituntut untuk menyempurnakan keadaan, tetapi menyempurnakan usaha kita. Jika kita terus berusaha untuk menyempurnakan usaha, maka keadaan pun akan terasa sempurna sejalan dgn hasil dr usaha itu sendiri. *kata2nya muter2 deh perasaan, maaf yah…,  jgn bosan2 baca tulisan2 saya yg nganar, oke! Hee… :D

10.5.11

Senyum :)


Senyum merupakan ekspresi seseorang yang timbul dari perasaannya. Senyum mengandung banyak arti. Senyum juga merupakan suatu cara untuk menyampaikan pesan tanpa mengeluarkan kata-kata. Klw kata abang2 Raihan ‘Senyum lah sedekah yang paling mudah,…senyum penawar duka’. Eh…tapi senyumnya jangan lebar2, bukan senyum lagi itu namanya, hihi.

Ada juga nasihat tentang senyum, bahwa kita jangan menyalahgunakan senyuman, maksudnya kita jangan menggunakan senyuman untuk tujuan yg mengandung mudhorot (tak perlu diberi contoh, saya rasa kalian bisa mengerti ^^)

Senyum itu mengandung kesahajaan, tidak menunjukkan sesuatu dgn berlebihan. Contohnya seperti orang yang sedang senang perasaannya, maka dengan senyum saja ia tdk terlihat lebay alias hebring.

Lebay itu sama dengan ‘berlebihan’
Hebring itu sama dengan ‘heboh’  ^^

Lalu, contoh lainnya, seperti org yg sedang pilu gundah gulana sedu sedan nan teriris hatinya *waduh kasihan* dengan terSenyum maka ia justru akan lebih tegar dan kuat. Karena percaya tdk percaya senyum itu dpt memberikan energi positif. 

Selanjutnya…, apa alasan seseorang untuk terus terSenyum di momen2/situasi tertentu??!

Karena senyum itu perbuatan baik yg mudah untuk dilakukan, maka bagaimanapun perasaan kita, bagaimanapun keadaan kita, baik senang ataupun susah, kita masih bisa menebar senyum kepada orang2 di sekeliling. Tapi klw bisa jangan senyum di tempat sepi yg tak ada satu orang pun di sana, nanti khawatir dikira gila atau kelainan, halah halah………




Berikut saya sebutkan sebuah arti dari senyuman yang menawan, yang tak mengandung mudhorot insyaAllah, yang mengandung kebaikan dan memberi kebaikan.

©       Orang terSenyum karena memang hatinya sedang berbunga-bunga bagai menari di taman bunga *ciahh. Ekspresi seperti ini umum dan wajar karena isi hatinya positif maka keluarnya pun juga positif, yaitu dengan senyuman.

©       Tersenyum karena tujuan menutupi duka di hati. Hati yang begitu dalam tak dapat terjangkau oleh indera, maka senyum dapat dijadikan senjata untuk menyamarkan status hati yang sedang tdk karuan itu. Senyum di sini menunjukkan ketabahan dan ketegaran org tersebut karena ia mampu tersenyum di saat hatinya pilu sekalipun. Hati menangis, namun bibir tersenyum.

©       Tersenyum yang betujuan untuk memberikan energi positif. Dengan terSenyum di hadapan orang, maka secara otomatis orang yg ada di hadapan kita akan ikut tersenyum dengan maksud membalas. (tapi klw hal ini tdk terjadi janganlah kecewa kawan, percayalah…, malaikat2 di sekeliling kita akan ikut tersenyum ;} )

©       Tersenyum karena sedang dihadapkan kepadanya sesuatu yg mengagumkan. Ibarat seorang lelaki/perempuan yg sedang berjumpa dengan lawan jenisnya yg ia kagumi, atau ketika kita melihat sesuatu ciptaan Tuhan lainnya yg membuat kita berucap ‘subhanallah’, maka secara otomatis pula kita akan terSenyum sebagai ucapan rasa syukur.

©       Tersenyum untuk menutupi rasa benci/ kurang respect kepada orang lain. Menurut saya hal ini dapat dinilai positif, karena dengan kita tersenyum dengan musuh/org yang kurang menyenangi kita, maka secara tidak sengaja dan secara perlahan rasa benci di antara orang2 ini akan luntur dan mungkin berangsur-angsur dapat membaik.

Karena senyum itu adalah perilaku yang terpuji, mudah dilakukan, dan disenangi setiap orang, maka berusahalah untuk tetap tersenyum di setiap situasi dan kepada siapapun. Orang Indonesia terkenal berjiwa sosial tinggi itu pun karena mereka, kita, suka tersenyum meski kepada orang yang sebelumnya sama sekali tak dikenal.

Maka senyumlah kepada semua orang,, tapi hatimu jangan. *eaaa :D

5.1.11

Childish Vs. Oldish

Dewasa berarti seseorang telah mencapai usia yang tergolong cukup umur, 25 atau 30 tahun ke atas. Ada juga yang berpendapat bahwa seseorang baru dapat dikatakan telah dewasa setelah mereka menikah. Namun jika begitu, untuk orang yang belum menikah hingga 40an tahun atau bahkan 50an belum bisa dikatakan dewasa dong. Bagaimana dengan anak kecil, atau remaja, yang usianya masih tergolong sangat muda, mereka telah dinilai orang lain di sekitarnya ‘sudah dewasa’ lantaran sikap atau perilakunya. Sebenarnya dewasa yang seperti apa yang ingin gw bahas di sini??! *kok malah nanya sendiri ya*

Meskipun gw belum termasuk ke dalam golongan orang dewasa versi pertama, yaitu yang berusia 25 tahun ke atas, tapi gw akan mencoba mencurahkan arti kedewasaan dari versi ketiga, yaitu anak remaja yang (mungkin saja) dinilai orang lain ‘sudah dewasa’ lantaran sikap dan perilaku gw. Yaa meskipun gw juga udah merasa bukan lagi anak remaja, tapi belum juga berumur dewasa, karena dibilang remaja udah ketuaan dan dibilang dewasa juga masih bau jahe *jangan bau kencur ya, bau jahe aja lebih seger ^^.

Mungkin teman-teman akan sangat kagum dan senang jika melihat seorang anak/bocah yang selalu menuruti kemauan dan perintah orang tuanya. Atau ketika menyaksikan seorang anak yang (dalam bahasa betawi) idep membantu orang tuanya meskipun tanpa diminta. Mengikuti segala aturan yang telah disampaikan orang tuanya, larangan, maupun perintahnya, yang dalam hal ini anak tersebut belum dikategorikan orang dewasa. Lalu, dari mana sikap dan perilaku kedewasaan anak2 seperti itu!? Apakah mereka telah dewasa sebelum waktunya??! *dewasa sebelum waktunya maksudnya apa ya?!*

Menurut gw yang sok tau ini sih mungkin saja kedewasaan sikap anak2 yang tak lazim dijumpai ini adalah hasil dari didikan orang tua mereka. Kepandaian orang tua mereka dalam memberikan pengertian dan contoh dalam bersikap dan berperilaku yang baik. Mengajarkan sopan santun, memerintahkan untuk belajar yang rajin, tidak brutal di sekolah, pulang sekolah jangan langsung main, melarang membawa barang mewah ke mana-mana, melarang pergi jauh sendirian, dan banyak lagi.

Penyampaian yang tepat kepada anak mereka akan direspon secara baik. Akibatnya anak itu selalu terkesan baik, tidak nakal seperti anak2 lain pada umumnya. Lalu, ke mana sifat kekanakan mereka yang (mungkin) seharusnya ada dalam diri mereka yang memang masih anak2!? *qo’ kayak ka’ Seto aja ngomongin anak2, anak2 dan remaja aja deh maksudnya ya :D

Frankly, kasihan juga jika anak2 seperti mereka itu tidak merasakan keindahan masa anak2 atau remaja mereka yang identik dengan keceriaan, bebas, lepas, tanpa beban tanggung jawab ataupun masalah, dan sebagainya yang biasanya melintas dipikiran orang2 dewasa.

Jika taste tersebut dilewatkan begitu saja oleh anak2 dan remaja, maka rasa penasaran atas posisinya sebagai anak2 atau remaja akan timbul di masa yang lain, tak lain adalah di masa dewasa mereka. Ya, di masa dewasa versi satu.

Tak sedikit orang yang tergolong berumur dewasa, namun perilaku dan sikap mereka seperti anak2. Hal tersebut bisa diperkirakan akibat masa anak2 ataupun masa remaja mereka yang tersita. *mengapa gw hanya memperkirakan, karena pernyataan ini tidak didukung dengan penelitian sebelumnya, hanya dari insting gw sendiri dan wawancara kecil2an kepada para steckholders.

Beberapa narasumber, yang tak lain adalah teman2 gw sendiri, menyebutkan bahwa Odah (nama samaran) selalu mencari kesenangan karena masa kecilnya yang suram. Ketika kecil ia nggak dibolehkan main sana-sini oleh orang tuanya, sering sekali dimarahi, dihukum layaknya orang dewasa jika nakal sedikit, komunikasi orang tuanya sangat kaku, dsb. Dan hal tersebut membuatnya menjadi orang yang berjiwa pemberontak, senang akan pemborosan, glamour, temperamental, mudah berbohong kepada orang tua, dsb. ….! Dan, ternyata benar kata….*siapa ya gw lupa*, bahwa orang tua tidak perlu menyalahkan kenakalan anak, karena apa yang mereka temukan di masa itu adalah hasil didikan di masa lalu….! Tapi kita jadi anak juga harus tau diri juga lahh.., ya gak tong?? ;)

Lain hal juga dirasakan oleh Ucok (nama samaran juga), seorang teman gw yang udah lama ngerintis usaha di beberapa bidang pada usianya yang terbilang masih muda, *ya kayak gw ini masih muda :D*. kalau dilihat casing-nya, memang ia terlihat bahagia tenteram sentosa sejahtera, tapi kalau dilihat dalemnya, maksudnya isi hati atau perasaan yang manusia biasa gak akan bisa melihatnya, nggak setenteram yang dilihat. Karena gw manusia biasa, jadi gw tau-nya dari penuturan beliau sendiri :D.

Beliau yang telah sukses itu suatu kali mengeluhkan suka dukanya menjadi pebisnis yang sukses, apalagi ia mencapai kesuksesan di masa muda yang menjadi impian setiap pemuda. Tanpa sadar, di balik kesuksesannya ia merasa ada yang hilang, ada yang terlewat, ada yang tidak lengkap dalam hidupnya. *apakah seorang pendamping hidup??* oh no! karena pada saat itu dia juga masih kuliah dan belum kepikiran mau nikah.

Lalu apa…?!, ternyata, dia itu menyesal karena telah melewati masa remajanya begitu saja. Ia mulai merintis usaha ketika masih remaja (ABG lebih tepatnya). Lagi masa seneng2nya tuh padahal, belajar sambil main, main sambil belajar, jalan2, ngumpul sama teman2, gitu dehh.., tapi bagus juga sih sebenernya masih remaja udah ada pikiran mau usaha, dan langsung dijalankan pula. Tapi, mungkin apa yang dia lakukan itu terlalu over untuk seorang remaja, hingga dia lupa kalau saat itu harusnya dia mencari jati diri dulu dengan berekplorasi di segala hal, termasuk senang2, he :D

Jadi begitulah kalau kita manusia tidak pintar menempatkan posisi sesuai masanya. Tapi, kalau memang udah takdir atau jalan hidupnya kayak gitu susah juga sihh…, haha, apasi!

Hmmm…, ada satu lagi nih cerita, tentang seseorang yang masih tergolong remaja, tapi dia udah menjalankan kehidupan layaknya orang dewasa. Bukan sebuah pengakuan langsung darinya, tapi efeknya gw lihat sendiri dari sikapnya.

Jadi si itu, *si itu?* iya, dia lah pokoknya.., udah menjalani hidup sebagai seorang istri, mengurus suami, melayani suami *upps*, mengatur rumah tangga, dan lain2,, bahkan sebagai ibu…, ngurus anak, mendidik anak, ngempu, rempong dah pokoknya!

Biasanya nihh…, yang lain, yang belum mengalami, mau buru2 mengalami masa ini, hayoo ngaku!! Ya kan, ya kan!!? *hah, apah? Gw? Gak usah ditanya! Lho!! Gak deng*

Sepertinya, dia masih belum nerima keadaan bahwa dia sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu, harus bersikap selayaknya seorang yang (terpaksa) dewasa. Terlihat dari perilakunya yang masih ke-ABG-an,, masih mau main alias ngumpul bareng teman2, pundung (sunda) alias ngambek (betawi) jika ditinggal jalan2 sama teman2 sepermainannya,, dengan kata lain…, dia tuh masih kepingin main2, seneng2, habiskan waktu habiskan uang (untuk hal2 + pastinya).

Ckck…, dia telah melewatkan sisa masa remajanya dengan melompat lebih jauh. Hmmm, mungkin harusnya dia (dan kita juga) melewati masa peralihan dulu kali yaa…, yaitu peralihan masa remaja ke masa dewasa *yg kayak gimana tuhh, baru denger!?*. Lagi-lagi pake kata ‘mungkin’, ya maklum karena memang gw bukan ahlinya, bukan psikolog, cuma pake insting atau naluri seorang manusia biasa ;).

Yaudah dehh gitu aja teman2 & followers, semoga pelajaran dari pengalaman beberapa teman gw ini bermanfaat untuk kalian. Pesan terakhir dari gw *ciahh.., kayak lagi sakaratul maut* maksudnya pesan gw dari postingan ini…, hendaklah memanfaatkan usia dengan sebaik-baiknya,, sesuai masanya, dan sesuai fungsinya,….perjalanan masih panjang, atur langkah, dan semoga sukses J.

9.11.10

Jakarta Punya Siapa

Jakarta dikepung banjir dan macet. Kata Benyamin S. “Jakarta kebanjiran…..”. Kalau lihat lagi film ‘Si Doel Anak Sekolahan’ Jakarta tak sesumpek dan sekelabu sekarang. Dulu begitu hijau, fresh, damai, tenang, dan nyaman. Yaa…meskipun Jakarta dulu adalah sebuah kampung yang masih banyak kebun dan sawah.

Sekarang image Jakarta tak lagi sebuah perkampungan yang jalannya masih tanah, tapi sekarang sudah menjadi jalanan aspal, bahkan jalan setapak pun di baluri semen. Sebuah kota yang terkesaan mewah dan elegan, karena dihiasi gedung-gedung bertingkat dengan dinding berkaca. Lampu-lampu penerang jalan sekaligus pemboros energi kota ini. Belum lagi mobil-mobil mewah yang lalu lalang kian bertambah jumlahnya tiap tahun.

Sekarang lagi jamannya Jakarta dilanda banjir dan macet. Dua kata itu sudah menjadi image Ibu Kota Indonesia ini. Agak malu saya menyebutkan image banjir dan macet itu milik ibu kota Negara. Lalu…??? Kenapa ya Jakarta bisa jadi kota yang serunyam ini??? APA dan SIAPA yang menyebabkan semuanya menjadi seperti ini??!!

Jakarta itu kota yang sempit. Saya katakan sempit karena jumlah masyarakatnya sangat banyak, namun wilayahnya tak cukup untuk menampung masyarakat yang sebanyak itu. Saking banyaknya, ada yang rela tinggal di bukan tempat tinggal, seperti di pinggiran sungai, pinggir rel kereta, di kolong jembatan, dan lain sebagainya. *mau nyanyi dulu ah sedikit “lebih baik di sini, rumah kita sendiri…, segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini…..” apa hubungannya dengan kota Jakarta?!

Lagu ini sebenarnya hanyalah sindiran bagi masyarakat-masyarakat yang hijrah ke kota sumpek ini dan mereka tak tahu arah mau apa dan ingin ke mana. Padahal lebih baik mereka tetap tinggal di daerah mereka masing-masing dengan tenang dan bersyukur atas keadaan yang meskipun hanya sekedar cukup untuk hidup *tentunya cara bersyukurnya ada usahanya juga. Yaa daripada keberadaannya hanya membuang-buang ongkos yang ujung-ujungnya hanya membuang-buang sampah tanpa memberikan kontribusi ke kota yang katanya memiliki sensitivitas tinggi ini.

Kalau membicarakan APA atau SIAPA yang menyebabkan kota Jakarta sering kebanjiran dan macet, jawabannya bisa beragam, sesuai subjek yang ditanya. Jika yang ditanya adalah pihak pemerintah, maka mereka akan menyalahkan masyarakat. Jika yang ditanya adalah masyarakat, maka sebagian besar tentunya akan menyalahkan pihak pemerintah.

Menurut saya sih yang salah dua-duanya. Ya, pemerintah sekaligus masyarakatnya. Saya masuk dalam kategori subjek, maka jawaban saya pun subjektif, betul tidak!? Dan perlu diketahui, setiap jawaban sebenarnya hanyalah berupa opini, setuju atau tidak para pembaca, itu semua tergantung pola pikir tanggapan para pembaca sendiri. Di sini saya hanya berperan sebagai seorang rakyat jelata yang telah merasakan nikmatnya kesengsaraan rakyat kecil namun berusaha ingin berempati kepada pihak pemerintah juga. *kesengsaraan dalam arti menerima akibat dari kurangnya kebijaksanaan dari pemerintah.

Saya mengatakan kedua belah pihak yang bersalah karena memang tidak secara mutlak pihak pemerintah atau masyarakat yang melakukan kebodohan-kebodohan. *bukan berari saya pintar sendiri karena mengatakan mereka melakukan kebodohan, karena tentunya saya masuk ke dalam kategori masyarakat. Sudah bagus dengan tata kota yang hijau dengan tempat resapan air yang banyak, tapi pemerintah membiarkan orang-orang yang entah datangnya dari mana membangun bangunan-bangunan besar yang muatannya bisa untuk 50 kepala tapi ternyata hanya dihuni 2-3 kepala. Belum lagi investor-investor asing yang dibiarkan merebut lahan milik tuan rumah, dan selanjutnya lahan tersebut dibangun gedung-gedung yang manfaatnya hanya untuk sekedar hura-hura seperti mall, dan bangunan-bangunan lain yang tidak mempedulikan wilayah resapan air yang mereka rebut.

Belum lagi segala jalanan diaspal dan disemen demi memanjakan orang-orang berduit yang tidak ingin hidup susah dan ingin terlihat mewah. Seharusnya mereka jangan hanya memikirkan keuntungan dengan mengharapkan pajak bangunan yang menjadi imbalannya dan lain sebagainya, tetapi juga memikirkan efek yang akan timbul dari segala keputusan itu. Kalau sudah begini ya percuma saja, keuntungan yang telah didapat ujung-ujungnya dihabiskan untuk perbaikan kota. Lalu apa yang didapat?? Capek, pusing, karena terlalu banyak gunjingan dari masyarakatnya sendiri.

Pemerintahan yang mana, yang patut disalahkan??? Yang dulu hingga sekarang juga sama-sama pernah khilaf :D. Tetapi, berhubung dampaknya baru terasa sekarang-sekarang ini mungkin yang lebih berperan dalam keputusan untuk melakukan langkah bodoh tersebut adalah pemerintahan terdahulu, yang kemudian langkah-langkah tersebut dicontoh dan diikuti pemerintahan selanjutnya.

Kita semua bodoh!!!, tidak berlaku lagi untuk saling menyalahkan. Kini waktunya introspeksi diri.

29.8.10

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi ??

Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia kian meningkat. Pertumbuhan ini tak mampu dikendalikan oleh pihak pemerintah maupun intern rumah tangga itu sendiri. Hal tersebut mungkin juga disebabkan karena faktor ketidakseimbangan antara angka kelahiran dengan angka kematian, akibatnya jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kematian.

Lonjakan jumlah penduduk ini serta merta membawa dampak pada kehidupan warga Negara. Menyempitnya luasan lahan permeter persegi per orangnya, meningkatnya kebutuhan pangan dalam negeri, serta meningkatnya kebutuhan lapangan pekerjaan di segala bidang. Poin terakhir merupakan dampak yang paling utama dari peningkatan jumlah penduduk karena faktor ini dapat melahirkan dampak-dampak baru. Kepadatan penduduk dengan keterbatasan penyediaan lapangan kerja menjadi kendala utama pada keadaan perekonomian Negara serta kesejahteraan penduduk itu sendiri.

Semestinya, dengan banyaknya penduduk dapat menciptakan kondisi ekonomi suatu Negara menjadi semakin baik karena dengan banyak penduduk berarti banyak pemikiran, beragam ide, karakteristik, keterampilan, dan keahlian. Hal yang demikian sebenarnya dapat dimanfaatkan dalam proses pengembangan ilmu dan keterampilan untuk kebutuhan perkembangan bidang tertentu. Keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan di tiap bidang tidak selalu sama dan bersifat unique, dan keunikan tersebut akan menunjang antara bidang yang satu dengan yang lain. Semakin beragam keahlian dan keterampilan serta baik pengelolaan diri manusia itu sendiri maka Negara tersebut akan semakin cepat dan luwes dalam menggapai perkembangan dan kemajuan, karena komponen-komponen yang dibutuhkan untuk mengembangkan bidang tertentu telah tersedia. Perlu ditekankan bahwa selain keahlian maupun keterampilan yang dimiliki para penduduk perlu pengeksplorasian yaitu dengan jalan pengelolaan keterampilan tersebut dari pemilik keterampilan/keahlian maupun dari pihak lain yang mampu memberikan dukungan baik moril maupun materil, dalam hal ini contohnya seperti pemerintah.

Indonesia merupakan Negara yang banyak penduduknya, terlebih lagi kekayaan budaya dan adat istiadat yang dimiliki, namun hingga kini belum dapat dirasakan kejayaan seutuhnya baik oleh pihak pemerintah maupun penduduknya sendiri. Padahal, bila diperhatikan potensi yang dimiliki Negara yang makmur ini sangat besar, sumber daya alam yang melimpah, serta sumber daya manusia yang banyak. Mengingat kedua sumber daya tersebut sangat melimpah di negri ini, ada potensi kemajuan dan perkembangan di segala sektor/bidang. Ilmu dalam bidang-bidang tertentu memiliki manfaat dan keunggulan masing-masing. Satu sama lain saling menyokong dan menunjang.

Kompetisi-kompetisi atas bidang tertentu yang dibangun dari berbagai pihak, dari berbagai organisasi, maupun dari berbagai persekutuan memiliki misi meningkatkan potensi serta peningkatan mutu bidang tersebut. Tak ayalnya dalam kehidupan di perkotaan, manusia berlomba-lomba untuk memperoleh pekerjaan pada posisi kepeminatan. Yang menjadi ‘masalahnya’ adalah kepeminatan tersebut berdasarkan apa. Jika ditinjau lebih jauh, kepeminatan mereka berdasarkan ‘orientasi persaingan’ artinya banyak dari mereka termakan iming-imingan kesejahteraan hidup yang mengarah pada ‘orientasi uang’. Dengan kata lain, mereka yang bekerja dengan misi memperoleh kesejahteraan berupa “gaji gede” adalah bekerja dengan ‘orientasi uang’.

Mereka tidak menyadari sesungguhnya mereka lebih sering mengalami keterpurukan hanya dengan misi mendapat ‘penghasilan besar’. Jika dicermati, kesejahteraan yang dicari dengan berorientasi demikian hanya bersifat jangka pendek. Dengan kata lain manusia-manusia ini hanya “menerima (gaji) - membelanjakan (konsumtif)”. Mengapa tidak berpikir untuk menjadi manusia yang “menerima (gaji)-memberi (pekerjaan atau mengajarkan ilmu/keterampilan) – menerima (gaji)”. Rantai pertama menunjukkan bahwa kita hanya sebatas bekerja demi memperoleh nafkah untuk dikonsumsi sendiri, sedangkan rantai kedua menunjukkan bahwa kita dapat memperoleh kesejahteraan dengan jalan menyejahterakan orang lain.

Kembali ke pembicaraan sebelumnya, Indonesia memiliki potensi alam yang besar dengan berbagai kebudayaan penduduknya. Kita mampu mengekploitasi kekayaan SDA dan SDM hanya belum pengeksplorasinya. Segala sektor/bidang memiliki potensi yang baik untuk dijadikan matapencaharian, dan kita tidak mesti mengandalkan pihak-pihak tertentu termasuk pemerintah dalam menggapai kesejahteraan hidup.

8.8.10

Mau dibilang 'Demokratis'? atau 'Tak Berpendirian'??

Kadang sikap "bingung" itu memberi kesan Demokratis, namun di sisi lain, ini terlihat Tak Berpendirian.
Lalu..., apa hubungannya antara 'Demokratis' dengan 'Tak Berpendirian' ?!!
*sepertinya memang tidak ada hubungannya
Demokratis, dapat memberi peluang terhadap arah pandang yang berbeda dalam suatu hal.
Tak Berpendirian, dapat menerima suatu hal dari arah pandang yang berbeda.
Demokratis, memiliki kekuatan dari dalam (internal).
Tak Berpendirian, kekuatannya dari luar (eksternal).
Demokratis, masih memiliki kekuatan internal meskipun banyak menerima arahan.
Tak Berpendirian, banyak yang mengarahkan, namun mudah terbawa, seperti kapas yang terbawa angin.
Demokratis, mampu memikirkan sisi positif dan negatif atas suatu hal.
Tak Berpendirian, cenderung lebih banyak berfikir sisi positif suatu hal.
Lalu....,
siapakah diri Anda??
"bingung" untuk menentukan jalan hidup adalah hal yang wajar, karena manusia akan selalu dihadapkan beberapa pilihan selama hidupnya. Yang menjadi pilihan tidak selalu membentuk sifat atau kepribadian manusia, namun sikap dan kepribadian manusia lah yang dapat mempengaruhi Pilihannya.

27.5.10

Hakikat Manusia

Manusia merupakan makhluk Allah SWT. yang paling mulia, terlihat pada awal penciptaannya para malaikat dan jid diperintahkan Tuhan untuk bersujud kepada manusia (Adam) sebagai tanda penghormatan. Kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada manusia atas dasar keputusanNya menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hakikatnya sebagai makhluk, manusia diciptakan hanya dari setetes mani. Dari setetes mani tersebut dijadikannya berbentuk hingga menjadi bentuk manusia melalui proses yang sangat rumit. Proses penciptaan manusia ini disempurnakan di dalam rahim yang cukup kokoh untuk menopang cabang bayi, dan di dalam rahim tersebut dicukupkannya nutrisi dan zat-zat bermanfaat lainnya agar terjadi pertumbuhan dan perkembangan untuk calon manusia.

Hingga pada akhirnya ia terlahir ke dunia dalam keadaan lemah dan bodoh (tidak tahu apa-apa). Ia tidak mampu menopang dirinya sendiri bahkan tidak mengerti segala hal yang dapat ia lihat dan ia dengar. Bahkan, ketika ia merasa lapar, haus, sakit, dan sebagainya ia hanya bisa menangis. Sejalan dengan kehidupan pemberian Tuhan, makhluk jahil itu pun tumbuh dan berkembang dari rezeki yang telah dilimpahkan. Rezeki pemberian Tuhan ia nikmati sepanjang hari, sepanjang bulan, hingga sepanjang tahun. Lama kelamaan ia mengalami kemajuan dari lemah menjadi kuat, dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi cerdas, dan itu semua atas limpahan ilmu yang Tuhan turunkan untuknya baik secara langsung (Al-Qur’an) maupun secara tidak langsung (kejadian di setiap gejala hidup yang dapat diambil hikmahnya).

Namun, dari kesempurnaan dan keelokannya, dari kesehatan dan kenikmatan rezeki yang telah dikaruniai, dan dari ilmu yang telah diberikan, manusia sering lupa kepada Pemiliknya. Ia tak menyadari bahwa tubuh yang sempurna, yang telah ia nikmati kegunaannya sepanjang tahun hanya merupakan titipan Tuhan selama ia hidup. Entah manusia kurang menyadari ataukah kurang memahami bahwa segala sesuatu yang terlihat maupun yg tidak terlihat diberikan Tuhan untuknya adalah cara Tuhan dalam mengajarkan manusia untuk bersyukur. Begitu juga atas kekurangan (lahir atau batin) yang telah ditentukan kepada diri setiap manusia, dari kekurangan tersebut Allah SWT. mengharapkan agar manusia ikhlas dan mampu membentuk dirinya sendiri menjadi manusia yang sabar dan kuat dalam menerima kekurangannya, dan jika perlu ia mampu menyikapinya dengan tanggapan yang positif sehingga manusia itu sendiri mampu menjadikan dirinya manusia yang luar biasa.

Selain itu, Tuhan memberikan keragaman karakteristik, perbedaan kelebihan dan kekurangan manusia, keragaman ilmu yang diperolehnya, perbedaan jumlah harta yang dimiliki setiap orang, dsb. Hal-hal tersebut telah ditetapkan Tuhan sebagai cara Dia dalam mengajarkan manusia untuk saling berbagi dan saling melengkapi satu sama lain untuk menutupi kekurangan yang ada dalam dirinya.

24.2.10

Degradasi Lingkungan

Degradasi lingkungan merupakan penurunan derajat lingkungan baik dari segi kualitas maupun kuantitas suatu lingkungan, berkurangnya nilai estetika suatu lingkungan, serta terjadinya pengalihfungsian suatu lingkungan maupun fasilitas umum.
Fakta yang dapat dilihat pada masalah degradasi lingkungan yaitu pencemaran lingkungan di sekitar tepi kali/sungai yang dijadikan daerah pemukiman oleh masyarakat sekitar, tempat-tempat wisata yang semula dibangun untuk berlibur bersama sanak keluarga maupun para kerabat kini tinggal pemandangan yang kumuh dan tidak teratur, serta taman koleksi yang semula bermanfaat sebagai jantung kota yang mampu meminimalisir pemanasan global dan memberikan kesejukan daerah sekitar kini tidak sedap lagi dipandang mata. Selain itu, fasilitas umum yang sengaja disediakan agar dapat dimanfaatkan justru sekarang menjadi ajang pelampiasan ekspresi oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Kita dapat menjumpai hal-hal tersebut di lingkungan manapun tempat kita tinggal maupun saat menelusuri suatu perjalanan. Degradasi lingkungan yang terjadi dapat disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri, yang seharusnya menjaga, memelihara, bahkan melestarikan lingkungannya. Selain itu, gaya hidup manusia yang luxurious menyebabkan manusia tidak lagi mempedulikan lingkungan karena mereka sudah menikmati kehidupan yang lebih layak tanpa menyumbangkan realisasi dari rasa kepedulian. Manusia kurang menyadari bahwa lingkungan di sekitar mereka juga merupakan tanggung jawab mereka karena secara tidak langsung mereka memanfaatkan/menikmati segala fasilitas di lingkungan tersebut. Peran pemerintah yang masih minim juga merupakan faktor yang menyebabkan degradasi lingkungan tidak terkendali.
Ketidakdisiplinan manusia dalam menjaga lingkungannya seperti membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan dendamnya alam pada manusia yaitu terjadi banjir, dan banjir yang terjadi akan kembali merusak lingkungan sekitar. Kurangnya pelestarian tumbuhan juga membawa dampak pada topografi tanah/daratan, tidak ada cengkaman akar tumbuhan kepada tanah, dan hal tersebut dapat menyebabkan tanah longsor. Selanjutnya, degradasi pengikatan karbondioksida akibat jumlah kendaraan yang sulit dikendalikan, limbah pabrik berupa asap yang terus menggulung di udara, dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon, yang selanjutnya menimbulkan berbagai penyakit pada manusia seperti kanker kulit, dll. Menurut Wardana (dalam http://bhumisenthana.blogspot.com/2007/10/degradasi-lingkungan-akibat-pola.html), suhu global meningkat skitar 5 derajat C (10 derajat F) sampai abad brikutnya.
Agar pengendalian degradasi lingkungan dapat terealisasikan, harus terdapat upaya penanggulangan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan. Mengingat bahwa lingkungan adalah bagian dari hidup manusia, kita harus segera sadar bahwa selain memanfaatkan dan menikmatinya, kita juga memiliki kewajiban untuk memelihara demi kelangsungan pemanfaatan lingkungan serta fasilitas yang ada di dalamnya.
Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan fasilitas umum dengan sebaik-baiknya (sesuai dengan prosedur) serta tidak merusaknya. Kemudian, menumbuhkan sifat inovatif dan meningkatkan kreatifitas sehingga lingkungan tetap dalam keadaan bersih, rapi, dan nyaman, caranya yaitu dengan melakukan daur ulang sampah-sampah (kemasan non organik) menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, mengadakan penghijauan pada skala rumah tangga, seperti tanaman hias, buah-buahan (bisa dalam bentuk tabulampot (tanaman buah dalam pot) atau di pekarangan rumah), dsb.
Hal tersebut secara perlahan akan mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga harus segera membangkitkan kembali peraturan-peraturan (berkaitan dengan lingkungan) yang telah ditetapkan sebelumnya. Merealisasikan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat secara persuasif dengan mengajak masyarakat berpartisipasi aktif membangun lingkungan yang lebih hidup.

17.2.10

Sang Pemburu Mimpi

            Tak ada rotan akar pun jadi. Satu peribahasa yang memberikan makna bahwa sesuatu yang dicari, apabila tidak ditemukan maka dapat digantikan/dilakukan dengan alternatif lain, yang memiliki sifat atau fungsi yang hampir mirip.
Sebenarnya, sesuatu yang dicari ini masih dapat diperoleh/dicapai, dalam hal ini yaitu rotan. Rotan yang dimaksudkan sesungguhnya masih dapat ditemukan karena telah diakui keberadaannya, hanya saja orang yang mencarinya tidak tahu di mana keberadaannya dan ia belum menemukan arah petujuk agar bisa memperolehnya.
Perumpamaan ini bisa dihubungkan dengan suatu keinginan atau cita-cita seseorang, yang begitu antusias dan yakin atas tujuan yang dikehendakinya.
Sesuatu hal yang menjadi impian akan selalu dikejar oleh pemburunya. Tetapi apabila pemburunya tersebut merupakan manusia yang kurang menghargai lelahnya hidup, yaitu orang yang pesimis sebelum masuk ke medan perang, maka ia akan mengambil jalan/alternatif lain yang baginya lebih mudah untuk diperoleh, meskipun ia tahu tujuan utama yang sebelumnya ia idamkan jauh lebih baik. Penyimpangan tersebut dilakukan atas dasar kebuntuannya dalam mencari arah petunjuk menuju harapan itu.
Mereka  lazimnya seperti orang yang terburu-buru dikejar masa (waktu). Bagaikan orang yang berdiri di atas dahan sehingga mereka khawatir akan terjatuh ke tanah. Terputusnya episode impian di masa depan yang diakibatkan sifat pesimis diri. 
Sang pemburu impian kehilangan semangat setelah berjalan sekian kilometer. Ia kehabisan tenaga saat berada dipersimpangan jalan. Lalu ia menemukan sebuah telaga yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Telaga tersebut terlihat menawan, meski tak secantik dan semolek telaga yang selalu ada dibenaknya. Begitu mudah orang ini melupakan cita-citanya. Maka ia memutar tubuhnya tanpa peduli lagi kepada bayang-bayang impian yang indah itu.
Kubu lain yang berbeda, mereka pantang menjadi pecundang dalam permainan dunia. Mereka mampu menjadi aktor sekaligus sutradara cerita hidupnya sendiri. Tanpa merasa terbebani dan selalu berusaha untuk tidak membebani yang lain. Ia memberikan goncangan sebagai tanda peneguran kepada jiwa-jiwa yang lapuk dan mudah rapuh.
             Hati mereka memiliki top power yang dapat menstabilkan hati yang labil. Baginya, keteguhan hati merupakan tameng yang berperan sebagai pelindung ketika mata pedang menghunus.
 Tak ada seorang pun yang mampu memeranginya, sekalipun mereka bersama sekutu-sekutunya. Dan tidak ada satu hal pun yang dapat merebahkan keteguhan hati sang pemburu mimpi itu.
Keyakinan yang mantap akan suatu harapan sangat dibutuhkan. Keyakinan bahwa tujuan tersebut mampu membawa pemburunya kepada keadaan yang lebih baik. Optimistis terkadang dipandang sebagai sebuah ego yang tak bisa ditolerir. Bagaimana manusia saja memandang suatu hal dengan prasangka yang baik.

9.2.10

Putih dalam Gelap

Seorang gadis, yang sedang menikmati masa remajanya,suatu ketika ia diajukan pertanyaan oleh seorang bibinya yang begitu menyayanginya. Maka terjadilah sebuah percakapan.

bibi   :  Kamu sudah remaja, apalagi masa remajamu
           berumur tua, sebentar lagi dewasa, mungkin
           saatnya kamu untuk memikirkan pasangan hidup.


gadis :  Aku merasa kini belum saatnya,...masih terlalu
           banyak yang ku pikirkan di luar urusan itu.


bibi   :  ..................!!


gadis :  Aku cukup merasakannya, tanpa harus memikirkan.
           Karena terkadang apa yang kita pikirkan tidak
           sejalan dengan yang kita rasakan.


bibi   :  (to the point) Laki-laki seperti apa yang kamu
           harapkan?


gadis :  (menghela napas) Aku ingin lelaki itu seperti ayah!!!
            seperti ayah yang keras kepala
            seperti ayah yang egois
            seperti ayah yang tidak begitu peduli
            dan, seperti ayah yang pelit ...

bibi   :  Mengapa demikian??!!? Tak adakah yang jauh
            lebih baik perangainya?

gadis :  Memang demikian..., aku senang, sebab ayah keras
            kepala dalam kebenaran dan tidak pernah
            menolerir kebathilan.
            Ayah egois, jika ia merasa tidak ada satu pun yang
            mampu mewujudkan suatu kebaikan.
            Ayah tidak begitu peduli ketika ia tahu bahwa
            teman-temanku begini dan begitu, karena baginya
            berteman itu dengan siapa saja, dan kewajiban bagi
            kita mempengaruhi mereka ke arah yang lebih baik
            tanpa harus terpengaruh kepada yang buruk.
            Ayah pelit, sewaktu aku meminta ini dan itu, yaitu
            hal yang dapat membuatku lalai dari kewajibanku.