Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan

3.8.14

Pengalaman Adalah Masa Lalu (yaiyalah...)

Tiba-tiba teringat pengalaman diklat Palang Merah Remaja di PMI cabang Jakarta Barat. Kisah hilangnya salah seorang teman kami dari sekian banyak teman dari sekolah lain se-Jakbar. Kebanyakan ‘dari’nya ya..pusing gak? Enggak kan? Oke lanjut....

Kisah misterius itu berawal dari kegiatan jurit malam yang biasa dilakukan seperti saat masa-masa orientasi atau perkenalan. Karena ini kegiatan Palang merah, jadi jurit malam yang dilakukan berupa simulasi pertolongan pertama korban bencana. Tak tanggung-tanggung, lokasi kejadian bencana yang dilakukan berjarak kurang lebih 2 km dari start atau kantor PMI Jakbar tempat kita bermalam. Hah!? 2 km jauh??1 nggak sih..., tapi kalau dari start kita harus bangun tengah malam sambil lari-lari dan kemudian angkat-angkat tandu yang isinya orang ya lumayan juga kan :p

Intermezo...,

Ada cerita saat mau angkat tandu beserta korbannya, salah satu relawan protes kepada salah seorang pelatih “kak, korbannya nggak boleh ganti ya, ini sih badannya kebesaran, berattt.” Lalu dijawab pelatih sambil sedikit (pura-pura) marah “memangnya kamu kalau sudah jadi relawan beneran nanti ada bencana gini mau pilih-pilih korban?!!” xD

Lanjut cerita hilangnya seorang kawan saya itu :D
Saat kami sedang sibuk-sibuknya mengurus korban bencana (simulasi), dengan mata yang sangat ngantuk dan badan yang lelah sangat, sampai nggak sadar kalau teman kita ada yang nggak ikutan simulasi ini. Kita semua bingung karena menurut kabar semua pelatih dan anak-anak pelatihan dikerahkan ke lokasi simulasi bencana.

Setelah semua korban di bawa ke kantor PMI dan seluruh relawan (anak-anak pelatihan) kembali ke kantor, salah seorang pelatih kami terlihat sibuk dan ketakutan karena satu anak didiknya yang bernama Nana tidak ada bersama kami. Hilang!!!

Seluruh pelatih, bahkan ketua pelaksana acara ini ikut mencari. Ada yang kembali ke tempat simulasi bencana, menelusuri jalan yang dilalui para relawan, hingga ke sudut-sudut ruangan di kantor PMI. Namun, Nana tak juga ditemukan. Malam-malam begitu anak itu buat kami bingung, takut.

Perlu diketahui bahwa Nana ini juga kawan satu sekolah saya. Karakternya yang kalem, introvert, dan suka menyendiri membuat saya awalnya tidak begitu heran dengan kejadian ini. Tapi berhubung sampai ke sudut-sudut ruangan saja tidak ditemukan, saya nggak bisa lagi mengira-ngira kemana perginya si Nana anak yang suka menyendiri itu.

Semua pelatih terlihat kehabisan ide untuk mencari si Nana. Semua pelatih-pelatih kami di PMI dijejer di teras kantor menghadap ke halaman oleh ketua panitia, bisa dikatakan dialah pelatih yang paling senior.
Dihadapan kami, para pelatih dimarahi dan dibentak oleh seniornya. Satu-satu ditanya sambil membentak di mana Nana, kenapa bisa lepas dari pengawasan, kenapa tidak ada yang memperhatikan hingga bisa hilang anak itu.

Kami yang menyaksikan mereka dari halaman kantor sambil duduk berbaris merasa kasihan, takut, dan mencemaskan Nana.
Bukan itu saja, bahkan kami menyaksikan beberapa dari mereka ditampar dengan kuat sambil dibentak-bentak, oh God kasihan mereka T__T
Kami semakin ketakutan, karena selepas acara simulasi kami hanya disuguhi kejadian menyedihkan ini, apakah nggak ada agenda lain..? seolah-olah agenda lain yang seharusnya kami lakukan ter-cancel akibat kejadian ini, sampai menjelang subuh.

Karena akan tiba waktu subuh, maka semua kegiatan dipending. Suasana agak santai, tapi tetap tegang, yang pada akhirnya nggak jadi santai :D
Kami tetap menjalani agenda acara sesuai aturan. Hingga pagi dan matahari semakin menampakkan diri, Nana pun tak kunjung ditemukan.
Bahkan hingga acara selesai sampai penutupan Nana tak juga muncul. Pencarian pun tak dilanjutkan. Aneh!!!
Kemana anak mungil itu?!
Pergi sendiri kah? Atau ada yang bawa kah?
Kalau pergi sendiri, apa motifnya?
-------------
Saat kami bersiap-siap untuk pulang, berkemas dan ngobrol di halaman kantor, tiba-tiba Nana datang menghampiri kami +,+
Kita semua histeris, bukan hanya teman satu sekolah, tapi teman-teman dari sekolah lain juga ikut histeris melihat Nana yang tiba-tiba datang. Kalau nggak salah ingat waktu itu Nana muncul dari warung makan dekat gerbang kantor PMI.
“sudah susah dicari, datang dengan wajah polos tanpa merasa bersalah pulak” teman-teman mendumal kepada Nana. Dan dia hanya menjawab “nggak tau Nana bingung”

Ternyata, cerita punya cerita, setelah Nana menceritakan semua kejadian yang dia sendiri tidak sadari, serta pengakuan beberapa pelatih kami, kejadian yang membuat mata ngantuk nggak jadi ngantuk dan perut lapar jadi semakin lapar itu ternyata hanya skenario belaka.
Bentakan, celaan, dan tamparan senior pelatih PMI kami hanya sandiwara yang sebelumnya sudah direncanakan oleh mereka.

Lalu.., penasaran dengan cerita Nana yang menghilang sampai nggak bisa ditemukan itu, di manakah dia disembunyikan..? :o
Ternyata Nana disembunyikan oleh bapak senior tadi di ruang kerja pribadinya, sampai dikunci dari luar. Kasihan Nana, sampai ngompol di ruang kerja Bapak senior katanya karena nggak boleh keluar sampai pagi xD
---------------
Semenjak kejadian yang cukup menyebalkan itu, saya mulai nggak percaya lagi dengan kejadian-kejadian aneh yang terjadi saat penggojlokan mental. Semenjak kejadian itu, saya nggak bisa lagi menikmati kecemasan saat kejadian aneh datang di acara-acara semacam pelantikan, nggak bisa lagi ikut khawatir dan histeris bersama teman-teman yang menikmati suatu kejadian tertentu, karena di pikiran saya sudah tertanam bahwa kejadian aneh di waktu yang strategis 90% adalah sandiwara alias dibuat-buat pihak panitia.
Secara tidak langsung, saya berterimakasih kepada semuanya yang telah secara tidak langsung pula memberikan pengalaman sekaligus pelajaran :D
Karena tanpa ikut mengalami kejadian aneh di masa lalu, saya tidak bisa memperkirakan kejadian aneh di masa selanjutnya :D hihihi......

Cerita pengalaman diklat PMR tingkat Kodya Jakarta Barat, di PMI Jakbar, thn 2002
Bersama 11 kawan MTs N 12 Jakbar, dan beberapa sekolah tingkat SMP se-Jakbar



30.9.13

Kita, termasuk manusia magabut atau tidak ??



Orang yang bekerja memang sudah sepatutnya mendapatkan imbalan, yang biasanya disebut gaji, atau upah. Mereka digaji sesuai level skill dan yang paling sering adalah sesuai dengan gelar atau tingkat pendidikan, karena hal tersebut mempengaruhi jabatan/posisi/peran orang tsb.

Untuk mengerjakan seluruh tugasnya, sang pegawai tentu akan diberikan job description atau biasa disingkat ‘jobdes’, yang akan menjelaskan tentang tugas dan kewajibannya terhadap perusahaan tempat mereka mengabdi. Dan si bos ataupun divisi lain akan menentukan gaji yang pantas diterima oleh sang pegawai. 

Contohnya, jika ia seorang lulusan sarjana pendidikan, dan mengabdikan diri menjadi seorang guru di sekolah menengah atas serta mengajar untuk beberapa mata pelajaran, maka gaji yang ia terima mungkin tidak akan sama dengan seorang guru menengah pertama yang hanya mengajar satu mata pelajaran.

Lalu contoh lain, seorang sarjana kedokteran, yang mengabdikan dirinya pada sebuah rumah sakit saja, pendapatannya akan berbeda dengan seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit sekaligus membuka praktik sendiri maupun usaha di bidang kesehatan lainnya.
Dan masih banyak contoh lainnya dlm berbagai bidang. Itu semua merupakan contoh bekerja untuk manusia. Bagaimana dengan bekerja untuk Allah ??

Kalimat ‘bekerja untuk Allah’, sebelum menuangkannya dalam tulisan ini, saya berpikir bahwa kalimat tersebut hanya sebatas bekerja dengan mengharapkan keridho’an Allah, yaitu bekerja dengan pekerjaan yang baik lagi halal.

Selepas dhuha dan saat membaca alma’tsurat, sambil berusaha memahami maknanya juga introspeksi diri, terpikir oleh saya ‘ya Allah..., alangkah kurang bergunanya saya, karena keseharian saya hanya sebatas ini-ini saja, hanya menunggu usainya penelitian, olah data juga sudah dicicil jadi skrg begini2 aja, ke kampus hanya sekedar tengok ini itu terus balik ke kos, makan, tidur, dan nggak ada hal lain yang lebih berarti untuk dilakukan, bahkan saya malu dengan orang-orang sekitar kosan yang memperhatikan saya kok matahari belum naik sudah balik ke kosan’. 

Dan setelah itu pun saya juga berpikir,’ kenapa yang saya pikirkan hanya sebatas urusan dunia saja, yang saya keluhkan hanya sebatas aktifitas duniawi. Bukankah saat ini pun saya sedang menjalankan aktifitas..., sholat dhuha, membaca al-ma’tsurat, sholat wajib bisa sering tepat waktu,, bahkan aktifitas ini merupakan kegiatan yang sangat berarti.’ (semoga tanpa sadar aktifitas ini merupakan wujud dari rasa syukur, aamiin).

Ya...., di saat orang-orang sibuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa, pekerja dll. Saya pun menjalankan tugas dan peran saya sebagai ‘makhluk’. 

Sekarang saya jadi lebih mengerti makna ‘bekerja untuk Allah’, tidak hanya sekadar menjalankan pekerjaan dengan baik dan mengharapka ridho Allah, tetapi juga ibadah kita, amal sholih, sikap sabar dan syukur juga merupakan jobdes kita dalam menjalankan tugas dan peran sebagai hamba. 

Jika seorang atasan di tempat kerja bisa memberikan upah kepada kita setelah kita bekerja, maka Allah memberikannya selagi atau bahkan sebelum kita bekerja, bahkan saat kita lalai pun kita tetap bisa merasakan karunia dariNya :’). Jika seorang atasan memberikan kita imbalan berupa uang atau barang berharga lainnya, maka Allah lah pemilik rezeki tersebut, bahkan atasan dan pekerjaan yang kita jalankan bisa dibilang  adalah perantara. Selain itu Allah memberikan imbalan kepada kita berupa kecerdasan (akal), kesehatan, udara, kekuatan, keseimbangan fisik, rasa berani dan pantang menyerah, dan banyak lagi.

Bisa dibayangkan, betapa Maha Agung-Nya, Bos semesta alam ini telah melimpahkan banyak nikmat dan karunia sementara kita tidak memahami tugas dan peran kita. Terlalu banyak kita melalaikan perintah dan larangan yang sudah dijelaskan dengan amat terang.

Kalau dalam sebuah perusahaan, mungkin kita sudah dimarah-marahi atau dimaki-maki atasan, atau mendapatkan SP (surat peringatan), atau bahkan terancam PHK alias ‘pecat’. Bagaimana tidak, kita hanya ‘magabut’ alias makan gaji buta. Lalu...., bagaimana jika kita ‘magabut’ peberian dari Allah ??!


23.10.12

SOCIOPRENEURSHIP: BERANI SUKSES BERANI BEDA




20 Oktober 2012, bertepatan dengan ulang tahun bapak Dahlan Iskan sebagai meteri BUMN RI, beliau mengisi seminar ‘Sociopreneurship’ dengan tema sesuai judul tulisan ini, yang diadakan di gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya.

Seminar yang diisi oleh hanya bapak Dahlan seorang, dan dengan HTM 0 rupiah ini mengundang para mahasiswa/siswi UB untuk berebut mendaftar pada H-5 demi mengikuti acara ini.

Sekitar pukul 07.45, saat MC ngocah-ngoceh bla bla bla... untuk sedikit menghibur para peserta dan mengisi kekosongan karena mungkin mereka pikir biasanya orang besar dan sibuk seperti beliau akan datang sesuai jam Indonesia, alias ngaret.

..................... (sambutan MC gak perlu dibahas deh ya.... :D)

Dan ternyata, kali ini kita harus bilang WOW, karena tepat pukul 07.58 pak Dahlan sudah terlihat di pintu ruang seminar. Begitu luwes, sederhana, energetic, supel, dan bersemangat, itulah citra positif yang terpancar dari jiwa beliau yang memantul ke retina mata-mata yang menyaksikan.

Tidak banyak sambutan yang disampaikan dari pihak kampus, pak Dahlan lalu membuka pembicaraannya yang diawali dengan kisah penyakit hati yang dideritanya., tidak ada keluhan dan tak pula tergambar kesedihan yang berarti dari wajahnya. Ia kemudian berpesan dan sedikit berorasi kepada kami para mahasiswa/i untuk terus berjuang dan tak gentar dalam meraih cita-cita. Terlebih lagi kita generasi muda yang masih mampu mengobarkan semangat untuk selalu bangkit jika sewaktu-waktu memang harus terjatuh.

Tidak banyak yang disampaikan beliau, karena menurutnya “anak muda itu tidak suka dinasihati, mereka tidak senang pidato, hal seperti itu kurang efektif untuk merubah mereka, dan cara yang paling baik bagi mereka adalah kerja, melakukannya, karena mereka butuh contoh.”

Lalu beliau meminta para peserta langsung mengajukan pertanyaan saja untuk beberapa orang penanya.

Pertanyaan pertama diajukan oleh mhsw FP (Fakultas Pertanian), “Bagaimana strategi pemerintah untuk memajukan pertanian Indonesia, khususnya di bidang pangan, seperti negara Jepang, AS, dan Thailand?”

“memasukkan rancangan kerja BUMN bidang pertanian ke dalam ketahanan pangan. Seperti membantu para petani padi dalam hal benih maupun pupuk. Mereka (petani) membutuhkan pinjaman untuk membeli bahan baku produksi seperti benih dan pupuk. Produksi mereka rendah disebabkan karena benih yang digunakan mungkin belum benar (tidak bersertifikat) atau pemakaian pupuk yang masih kurang dari kebutuhan tanamannya, dan lain sebagainya. Pinjaman dana yang akan diberikan tersebut dapat dibayar setelah mereka panen.” Papar beliau.

Satu pengalaman yang diceritakan pak Dahlan saat beliau berkunjung ke sebuah perusahaan gula di daerah Jawa Timur, yang membuatnya agak prihatin dan merasa sedikit aneh, karena perusahaan tersebut semua atasannya, manajernya, sudah senior alias sepuh semua. Dan kemudian setelah beliau menanyakan hal tersebut kepada pihak perusahaan alasannya ternyata memang sudah peraturan perusahaan bahwa naik jab`tan itu seperti ‘naik tangga’. Beliau kurang mengindahkan kebiasaan seperti itu, karena baginya ‘hanya anak muda yang bisa membawa kemajuan’ (melihat perusahaan tersebut hidup tanpa perkembangan).

Lalu pertanyaan kedua yang datang dari FMIPA, jurusan Biologi, bertanya tentang peran pemerintah dalam kegiatan pengembangan penelitian, seperti dalam rekayasa genetik. Karena karakternya yang cukup humorous, beliau malah menjawabnya dengan guyonan, “saya pengen, bisa nggak anak biologi merekayasa gen hewan, babi, yang rasanya menjadi tidak seperti babi, sehingga namanya bukan lagi babi, biar bisa halal dikonsumsi.” :D

Lalu, ketika mhsw FISIP bertanya tentang kapan sebaiknya seseorang memulai bisnis dan langkah apa saja yang harus dilakukan agar cepat mencapai kesuksesan. Jawaban yang diberikan pak Dahlan cukup simple, “untuk memulai bisnis lebih baik dimulai sejak masih muda, karena jika masih muda apabila mengalami jatuh maka akan lebih cepat bangkit kembali, masih bersemangat, karena memang harapannya masih panjang. Dan jika ingin mencapai sukses dengan segera yaa lakukan segera, atau bekerja segera, atau nikahi anaknya pak Chaerul Tanjung :D”. :D :D :D

Beliau mengutarakan prinsipnya, bahwa meskipun negara ini tidak mau maju, maka akan terpaksa maju, karena penduduknya yang 136 juta jiwa ini telah maju dan pasti akan menuntut untuk maju, atau berpikir untuk maju.


.....Dan masih beberapa pertanyaan para peserta lainnya yang diajukan kepada pak Dahlan----


Di sisa-sisa pembicaraannya pada seminar yang berlangsung hanya selama satu jam ini, beliau berpesan “kita harus merasakan dunia /bumi ini harus lengkap, bukan sempurna., seperti ada yang baik-jahat, ada yang kaya-miskin, dan segala manusia dengan profesi masing-masing. Kita harus mensyukuri apa yang telah ada, serta bertawakal kepada Allah.” 

24.8.11

27 FEBRUARI 2011

Aku ingat betul dengan tanggal ini, krn bertepatan dg tanggal kelahiran sahabat Aliyahku. Tp bukan hari ulang tahunnya yg mau ku ceritakan :D tapi di tanggal itu ada dua kejadian aneh dan menyebalkan saat aku masih di Bogor.

Aku yg baru selesai training Kultur Jaringan selama sebulan lebih di Esha Flora << click (boleh laah ikutan mempublish ;D) menemani kawan yg selama seminggu ngasih tumpangan tempat tinggal untukku di kosannya :D. ihh malu2in aja ngekos numpang2! Habis nanggung klo bayar sewa kosan untk seminggu aja, haha.

Baik banget ya kawanku itu. Kalo di fb namanya ‘Rien Culal Celel’, dulu suka dipanggil ririn asgar (asal garut), soalnya di jurusan yg namanya ririn ada 2 -,-.

Jadi, pada tgl itu, aku dan ririn pergi ke toko alat tulis & kantor, nggak jauh dari kosan, skitar 500 meter aja. Karena nggak begitu jauh dr kosan, cuma aku yg bawa tas untk naro dompet, hp, payung (di bgr payung itu mnjd suatu benda yg wjb dbw kmn2).

Di perjalanan nggak ada cerita.

Masuk toko, aku agak heran, soalnya nggak biasanya toko itu banyak orang, biasanya sepi.., baru ku ingat, wkt itu memang lg weekend, hhe.

Aku dan ririn berpencar, sibuk cari2 item kebutuhan masing2. Setelah aku dapat beberapa barang yg mau dibeli, aku dekati ririn yg lagi sibuk memilih map2, rak2 map letaknya di sisi toko.

Saat aku ikutan lihat2 map, tiba2 aku ngerasa ada yg menyenggol tasku, karena tasku memang kaku, jd kalo disenggol langsung kerasa. Aku spontan langsung menengok ke tas, melihat dengan sedikit menyentak. YA ALLAH…YA KARIIM…, aku sedikit menyaksikan tangan seorang cewek keluar dr tasku >,< trus ku lihat buru2 ke tas, ternyata tasku kebuka separo

*langsung menduga yg aneh2………… >> !!!!!!!!!!!!????

Karena khawatir dugaanku benar, aku sempatkan untk lihat isi dalam tasku, Alhamdulillah nggak ada yg hilang, dia blm sempat ngambil tp udah keburu kepergok. Aku langsung memberanikan diri untk menatap cewek itu, dia langsung pura2 ngajak ngomong teman sebelahnya, cowok, sambil sok2 milih map. Aku mencoba lebih memberanikan diri, ku tatap dia dari atas sampe bawah, trus dia mulai grogi dan salting.

Karena ririn udah di dekat kasir, aku dekatin dan aku bilang ke dia kalo ada yg mau mencopetku. Aku ngomong ke ririn sambil menatap copet2 itu. Ternyata setelah ku perhatikan mereka bertiga, yg satu lg cewek juga, mgkn dia tugasnya cuma untk mengalihkan perhatian org lain, karena ku lihat dia belanja ribut sendiri, berisik sendiri.

Aku terus2an ngeliatin cewek yg beraksi untk mencopet tadi, cuma dia yg aku liatin terus2an, aku liatin dari atas sampe bawah! Sengaja, biar dia salting, grogi, dan entah apa yg akn dilakukannya.

Waktu aku ngadu ke ririn, tiba2 yg cowok nyamperin aku, trus bilang gini “mba ngapain ngeliatinnya kayak gitu?!! Matanya melotot2!!” sambil meragain mata melotot yg nggak mirip bgt dg yg aku lakukan. Cowok itu ngomongnya sedikit teriak. Aku berpikir cowok itu bodoh, soalnya dgn dia ngomong terang2an kayak gitu bikin orang2 di sekeliling tambah curiga sama mereka, ckckck.

Aku jawab dgn tampang yg sok berani “mba yg itu tangannya masuk ke tas saya kan!!” sambil menatap kembali cewek yg dandanannya (sok) kayak orang kantoran. Aku pun ngucapinnya sengaja agak teriak biar orang di sekitar juga dengar *seru kan!? ;D haha

Trus cewek itu dari air mukanya sih kelihatan sedikit grogi, tp dia tetap berusaha membela diri “orang tadi cuma kesenggol aja qo’ mba! Enak aja nuduh sembarangan!”.

Aku jawab ngotot “masa kesenggol aja sampe kebuka sih mba tas saya!?”

Trus cowok itu mudar-mandir di belakangku sambil mengepal tangannya dan ngedumel sendirian. Aku langsung balik badan menghadap ke dia krn aku khawatir dia apa2in aku dr belakang.

Kalo sama yg cewek aku berani ngotot, tp klo sama yg cowok rada ngeri, soalnya perawakannya tinggi besar, mukanya sangar.

Trus, ririn bilang klo yg cewek itu ngedumel di belakangku (ahh beraninya ngomong di blkg xp), begini katanya “ihh kenapa lagi tu orang, asem bgt mukanya!”

BRAKKK!!!

Kalo aku sempat ngeguyon pd waktu itu bakalan ku bilang ke si mba2 itu “ehh mba, cuma mba yg bilang saya asem, yg lain mah bilang saya itu maniss!!” *eaa :D

Truss..mungkin karena semua mata para pengunjung udah terarah ke mereka, termasuk juga ‘nci2 yg punya toko, mereka semakin salting. Yg cowok semakin aneh, tiba2 ngomong gini “orang kita sama2 belanja qo’ main nuduh aja!, beli keripik ini enak kali ya, dipakein saos enak nih…!” ngomongnya teriak2 sambil megang keripik yg ada di dekat kasir (-__-!)

Waktu aku bayar belanjaan di kasir, saat ku buka dompet, cowok itu dgn pede alias bodohnya merhatiin isi dompetku, dia dengan pedenya berdiri di sampingku, PARAH BGT >,<. Aku gemetar dibuatnya, takut tiba2 dia ngerampas secara paksa dompet atau tasku meski di dpn byk orang, ckck.

Ririn yg khawatir sama situasi itu langsung buru2 ngajak pergi dr sana. Dia nggak bs berbuat apa2 krn memang dia nggak tau kejadiannya dr awal. Tapi aku menolak ajakan ririn untuk langsung balik. Aku mau membiarkan mereka bertiga yg pergi duluan dr toko itu, krn aku khawatir klo aku sama ririn yg keluar duluan nanti mereka mengikuti kami *nggak kebayang.

Cowok dan cewek aneh itu udah ada di dekat pintu keluar, sementara temennya yg satu lg masih ada di dalam, hampir di bagian ujung toko, dia mungkin bingung hrs berbuat apa. Ini kesempatanku, buat ngerjain cewek ini, heuhh!

Aku samperin dia, ku dekatin, dan seperti yg ku lakukan kpd cewek yg satu lg, aku pertatiin dia dari atas sampe bawah, aku tatap tanpa berkedip. Ternyata caraku ampuh, dia langsung salah tingkah, sedikit2 melihatku, trus pura2 milih barang, begitu terus sampai teman2nya memanggilny untk keluar.

Benar aja kan! Nggak ada satu pun barang yg dibeli mereka. Malah stabilo milik toko yg diambil, kata mba2 pegawai toko sewaktu aku mengadukan kejadian tadi.

Setelah mereka pergi, baru aku&ririn kembali ke kosan. Di jalan depan toko itu kami celingukan, takut mereka menunggu kami trus mengikuti kami, maasya Allah.

Kembali ke kosan membawa perasaan kesalll.
…………………………………………………………

Kami istirahat di kosan, sambil membahas kembali kejadian menyebalkan tadi. Setelah itu, ririn mengajakku ke taylor dekat kosan.

Sampai di sana, jendelanya terbuka lebar, tapi pintunya ditutup, nggak ada orang pula. Kami tunggu beberapa menit nggak nongol juga tukangnya. Hmm.., ririn mencoba membuka pintunya, ternyata nggak dikunci, trus dia ngajak nunggu di dlm aja.

Entah berapa lama kami nunggu, sempat beli es krim, es krim nya sampe habis, trus cerita2 tentang kucing *gara2 lihat kucing lewat, trus udah ketawa-ketiwi, udah berasa kayak kosan sendiri aja deh, tp blum nongol2 jg tukang jahitnya.

Kira2 satu jam, akhirnya datang dua lelaki muda, ternyata yg satu tukang jahitnya, yg satu lagi mungkin temannya. Kita berdua ditanya mau apa, trus waktu ririn ngobrol dgn tukang jahitnya, temannya yg satu itu ngajak kenalan *iiiihh PEDE bangett. Nongol2 ngajak kenalan, sambil menyulurkan tangan dan nanya asalnya dr mana pula -_-.

Kenapa ya setiap ada laki2 model begitu aku berpikir ‘itu cowok nggak laku apa ya, sampe segitunya godain cewek’ astaghfirullaah :D

Trus, setelah urusan kami dengan taylor selesai, kami buru2 balik ke kosan. Takut dia melakukan hal yg lebih aneh.

Yaa Rabbii…Yaa Rasul…, knp ya hari itu aneh banget x(. kalo diingat2 waktu itu perasaanku kalut banget, cemas, heran sama hari itu.

Aku mencoba untk mikir, apa aku punya salah atau telah melakukan kesalahan!? Lalu, aku ingat sesuatu, malam hari sebelumnya ayahku nelpon dan memintaku untuk pulang ke rumah karena ia tau klo aku udah selesai training&magang, dan udah bs pulang ke rmh. Tapi aku menolaknya. Aku mengulur2 waktu pulang, cuma untuk menghabiskan sisa waktu di bogor.

Hmmm…, dengan keadaan sesadar-sadarnya, aku berusaha buat diriku mengerti, klo yg barusan terjadi pada diriku itu mungkin akibat kelalaianku kpd ayah -_- alias kualat. Allah telah menegurku secara halus. Aku diberi peringatan agar lebih peka thd maksud orang tua J :D

23.8.11

About Trauma : Kejahatan Ada di Mana-mana, Waspadalah! waspadalah!!


Hihi…, judulnya bikin inget sama Bang Napi. Si om bertubuh besar, bertato, mata ditutup sebelah, dan tempatnya di balik trali besi, tapi kalo ngomong nggak kaya org jahat, malah suka ngasih wejangan ke orang2 untuk selalu waspada sm orang jahat -,-

Semua orang, termasuk aku, mengakui kalau kejahatan itu ada di mana2, karena bentuknya pun bermacam-macam, jenis penjahatnya pun unik2 dan unyu2 (#%^*&*$!!>?? grrrrrrr!!) >> bukan dibaca ‘ge-er’, bacalah dlm satu suku kata >> ……….(nggak penting, lanjut!)

Aku sudah beberapa kali menjumpai penjahat dalam bentuk PENCURI. Pencuri itu sebutan untuk penjahat yg kerjanyanya mengambil barang berharga milik orang lain. Dan itu mulai aku alami saat sekolah MTs (tau MTs nggak? Klo nggak tau norak bgt deh… v^^).

Tapi kejadian yg waktu aku masih MTs itu terjadinya di rumah dan nggak tau prosesnya kayak gimana, karena tau2 HPku hilang begitu aja, nggak tau itu maling masuk ke rumahnya gimana, karena ya memang rumahku sepi banget. Dan itu sudah terjadi dua kali. Sama2 HP yg hilang, dan kejadiannya di rumah juga. Kalau yg ke-2 sih aku udh Aliyah. *sungguh menyedihkan

Kalo kejadiannya seperti yg di atas itu memang cuma menyesakkan hati aja, bayangin kalo kejadiannya pas barang itu memang lagi ada di tangan kita, dirampas secara paksa, huffff…sungguh menyebalkan!

Aku pernah mengalaminya waktu Aliyah, saat pulang sekolah, dan kejadiaanya di dalam angkot. Dari depan sekolahku di Pondok Pinang sampai Kebayoran Lama aku bersama satu teman sekelasku, Widia, dan dua adik kelas pulang naik angkot yg sama. Karena kami semua turun paling belakangan, kami semua duduk di bagian belakang atau bagian pojok angkot. Sebelah pojok kanan aku, dan pojok kirinya Widia.

Angkot yg kami naikin waktu itu memang kosong, jd cuma kami berlima di angkot itu (satunya supir). Jarak sekitar 2 km dari tempat kita naik angkot, naiklah 4 orang laki2, ada yg setengah bapak2, ada yg masih muda. Yg satu duduk di depan, yg tiga lagi duduk di belakang sebelah kami.

Kira-kira angkot berjalan sekitar 5 menit, salah satu lelaki yg perawakannya paling tinggi besar merasa suatu benda menyentuhnya dan dia merasa sakit *padahal sih pura2. Di bilang gini “duhh..apa nih? Kamu bawa apa?!” tny lelaki itu kpd adik kelas yg duduk di antara aku dan lelaki itu.

Adik kelasku kelihatan heran sama lelaki itu, trus dia jawab “ngga bawa apa2 pak!”.

Lelaki itu balas omongan lagi: “oo…kirain bawa senjata tajam!!”

Adik kelasku jawab berani: “nggak lah pak, buat apaan sy bawa gituan…” sambil masang wajah anak manis

Lelaki itu (sok) bercerita: “bukannya knp dek, wkt itu sy seangkot sama anak sekolah dua orang cewek cowok, cuma gara2 kesenggol trus ditanya gitu aja langsung ngeluarin pisau, trus pas sy mau lawan malah yg cowok ngelukain sy pke pisau!” (sambil nunjukin bekas lukanya di tangan).
“jangan2 adek pd bawa senjata tajam juga ya?!! Coba saya liat” (dengan nggak sopannya mereka rebut tas2 sekolah kami)

Kami semua mencoba merebut tas2 kami: “jangan pak, nggak ada apa2nya qo, kita nggak bawa pisau qo’ pak!”
Tapi mereka tetap ngudek2 tas kami satu per satu. Aku yg dari awal udah curiga ngerasa gemeter tapi agak slow, krn saat itu ku pikir aku nggak bawa banyak uang dan ngga ada HP jg *secara HPnya udah ilang duluan kan di rumah, haha.

Mereka, si penjahat2 itu, terus ngudek2 seisi tas kami yg isinya cuma beberapa buku dan alat tulis. Aku khawatir dgn tas2 adik kelasku krn aku nggak tau mereka bawa HP atau nggak.

Belum selesai diperiksa tas adik kelasku, aku memberanikan diri mengetuk atap angkot sebagai tanda mau turun. Tanpa ku sangka, si penjahat jelek itu memukul tanganku!!! “My God.., astaghfirullah…” spontan aku ngucap kayak gitu. Kata lelaki itu “kalo dibilangin diam aja! Nurut aja!”. Aku bales “ihh pak kita mau turun!! Udah kelewat jauh….” Si supir nggak mau berhentiin laju angkotnya juga, krn feelingku, temannya yg duduk di depan samping supir pasti berperan untuk ngancem si supir supaya nggak berhenti  saat mereka beraksi.

Dan mungkin mereka ngerasa nggak ada barang berharga yg bisa diambil dari tas2  sekolah kami, kita dipersilakan turun, dan ternyata benar, pas gerombolan penjahat itu suruh si supir berhentiin angkot, baru si supir nurut, tapi pas aku bayar ongkos ke abang supir, mukanya keliatan ketakutan, sambil senyum2 yg grogi.

Kami semua turun dalam keadaan takut dan kesel bgt. Aku sampe ngapalin nomer plat mobil angkotnya, tp sekarang udh lupa :D lagian nggak penting soalnya bkn abang supirnya yg berbuat jahat.

Terus kami nunggu beberapa menit dulu supaya angkot yg berisi penjahat itu jauh banget dr kita, baru deh kami naik angkot lagi.

Sampai di rumah, aku nggak cerita2 ke ayah, soalnya aku tau ayah orangnya khawatiran, takutnya aku terlalu diwanti-wanti kalo lagi di luar rumah, nggak boleh jalan jauh2, nggak boleh pulang sekolah sore2, dan satu lagi…takut nggak dibeliin HP lagi, xixixi….

12.8.11

About Trauma: Insiden di Malam 'Iedul Fitri


Telah lewat bulan Ramadhan yg penuh keberkahan dan suka cita itu (kira2 sekitar 13 thn lalu). Di mana tiap seusai shalat subuh, aku dan teman2 sepermainan di sekitar rumah main2 di jalanan sambil olahraga kecil2an.
Kami selalu melakukannya di bulan Ramadhan, karena seusai subuh memang jalanan masih sepi banget, nggak ada kendaraan yg lalu lalang. Bahkan bisa untuk olahraga yg main2, kayak main badminton, skateboard, rollerbed (bener nggak tu tulisannya kayak gitu), monopoli, congklak, bola bekel *jgn percaya ya, nggak semuanya itu bener :D
Hmmm, pokoknya pagi2 adalah waktu yg paling menyenangkan di bulan Ramadhan. Tapi selain pagi, malamnya jg menjadi waktu yg sangat menyenangkan di bulan mulia ini, karena aku dan teman2 suka samper2an kalo mau berangkat ke masjid untk shalat tarawih, trus selesai shalat kita main lagi, hehe. Makanya bulan suci ini disebut bulan penuh keberkahan, karena ya salah satunya bs memupuk kebersamaan dgn sesama J
Satu malam pemecah kesunyian, pelepas lelah bagi yg khusyu’ beribadah selama bln Ramadhan, dan sebagai penyambut akan datangnya hari kemenangan. Gema takbir berkumandang pertanda berakhirnya bln Ramadhan dan akan dtgnya ‘iedul fitri.
Semua ibu2 saling antar2an makanan. Ya ketupat, opor, semur, atau jenis makanan lain yg khas di hari raya. Semua bersuka cita. Bapak2 datang ke masjid untuk takbiran bersama-sama. Anak2 pun ikut bergembira. Ada yg lari2an di sekitar masjid, ikut takbiran, mukul2 bedug, dan macam2.
Aku dan teman2ku lebih memilih main di luar masjid, karena klo main di dalam masjid nggak sopan, lagian jg takut diomelin sama mendiang nenekku ^^ kebetulan masjid di dekat rumah itu memang milik beliau.
Aku, yg (rada) pendiam tapi nggak bisa diam ini, memang senengnya wara-wiri. Berteman dgn teman2 dan sodara2 yg memang nggak bs diam jg, cocok dah. Saat temanku lagi becanda dan ngeledek salah satu anak cowok yg umurnya masih pitik tapi nakalnya masya Allah, anak itu ingin memukul dan menembakkan pistol mainannya ke temanku itu, trus dia (temanku) lari, aku spontan yg lihat mereka jg ikutan lari krn takut kena imbasnya.
Dari tepi gang samping jalan kami lari sampai ke pinggir2 jalan depan masjid. Di mana jalanan saat itu agak ramai kendaraan dan orang2 pada lalu lalang. Aku yg lari paling belakang beberapa kali menoleh ke belakang krn takut anak badung itu malemparku dgn pistol mainan yg bentuk dan ukurannya sama kayak pistol beneran. Lalu temanku yg lari di depanku lari menyebrang jalan, aku yg di belakangnya yaa ikutan nyebrang.
Belum sampai di seberang jalan, tiba2 motor yg melaju kencang menyerempet dan aku tertabrak, aku jatuh tepat di depan ban depan motor itu. Karena motor itu memang agak ngebut, jadi si bapak pengendaranya mungkin nggak bs mengendalikan laju motornya. Aku kegiles guling2 dgn motor itu di atas aspal sejauh kurang lebih 4 meter.
Klo dibayangin, waktu itu aku udh kayak dirol, kayak bagian aspal yg mau diratain pake bulldozer, astaghfirullaah.
Seusai dirol, di saat itu aku masih terbaring di jalanan, ternyata aku masih sadar (alhamdulillaah aku masih idup), dan pertama kali yg ku sebut adalah ayah, memanggil ayah dgn suara merintih, aku nggak bs nangis wkt itu, krn semakin nangis atau bergerak badanku semakin sakit.
Entah siapa yg memanggil ayahku begitu cepat, mungkin ayah memang lg ada di masjid juga. Ayah dtg dan langsung mengangkatku untuk digendongnya.
 Saat digendong ayah dan di bawa ke rumah, sempat2nya aku mikir klo ‘jgn2 tulangku ada yg patah! Oh No!!’
Dengan cepat seseorang utusan umi memanggil tukang urut. Malam itu jg aku langsung diurut dan nggak dilarikan ke rumah sakit, karena memang nggak ada masalah dengan tulangku, hanya saja otot2 badan dan urat terpelintir sana-sini dan lecet parah sana-sini.
Sehabis diurut selama kurang lebih 2 jam, aku diketawain dan disuruh bercermin. HWAAA….pipi dan bagian mukaku yg lain lecet parah, kulitnya merah coklat dan ada yg terkelupas, kayak habis kebakar >____<. Terus lagi kedua tanganku juga lebih parah, apalagi di bagian siku, malah ada yg hampir kelihatan dagingnya, masya Allah >____<
Orang tuaku udah biasa klo ada musibah atau apa2 dgn anaknya, malah diketawain, bukan dimarahin atau malah ditangisin. Aku tau, mereka kayak gtu supaya aku bs tegar dan nggak shock.
Dalam hatiku saat itu “ya Allah, miaaa….., malam takbiran knp dpt musibah gini, mana akibat ulah sendiri, hadoooh….aku malu bgt besok lebaran keadaanku menyedihkan kayak gini, heuheu..!”
Kata si umi, “haduh mia, nggak kebayang kalo harus di rumah sakit lg mlm takbiran gini T__T ”
Hmmm…., memang yah setiap peristiwa itu ada hikmahnya. Keesokan harinya, yaitu hari lebaran, dari pagi org2 shalat ‘ied aku cuma nunggu di rumah, aku malu keluar dan dilihat org2. Tapi saat sodara2 pada kumpul di rumah nenek yg letaknya di samping masjid, aku disuruh datang, truss ya aku datang dong, sambil malu2. Encang-encingku iba saat melihat keadaanku, keadaanku memang begitu menyedihkan T___T sekaligus menyeramkan >,<.
Hari lebaran yg ada kebiasaan ngasih duit untk ank2 kecil dan ank2 gede, pastinya aku kedapetan juga doong, kita semua menyebutnya uang THR. Kali ini aku dapet uang THR lebih gede dr biasanya, sodara2ku ngasih uang THR jauh lebih gede dr biasanya dan dr yg semestinya.
‘ihhh,, banyak bangett uang THRku, haha. Ini pasti karena sodara2 melihat keadaanku yg parahh sehingga mereka merasa iba dan terketuk hatinya untuk menyenangkan hatiku dgn memberi THR lebih gede, wkwkwk.’

Oh iya, lupa certain bapak yg nabrak aku td. Bapak itu membonceng seorang bapak tua, ternyata yg nyetir motor itu adalah seorang tukang ojek. Dia nggak kabur qo’ wkt habis kejadian itu, malah mereka ikut menengokku waktu aku diurut, trus bpk ojek td mau memberi uang untukku, mungkin karena ia merasa bersalah *duuh kasian si bpk, tp umi menolaknya, karena umi kasihan katanya, dia cuma tukang ojek, mana mau lebaran, itu uang yg mau dikasihin ke aku kan rejeki dia untuk lebaran besok. Umi bilang ‘nggak kebayang kalo jd istri atau anak2nya, dpt musibah yg sebenarnya bkn kesalahan dia’. Trus umi minta maaf ke bpk ojek krn aku udh ceroboh, itu supaya dia nggak terus2an ngerasa bersalah. Akhirnya mereka pergi dgn perasaan yg (kelihatannya) lebih tenang. 

Itulah kisah masa kanak2ku yg begitu menggemaskan. Penuh canda dan tawa, namun berlebihan, sehingga melahirkan sedikit tangis dan luka. Maka dari itu, Allah memperingati kita agar jgn terlalu terlena dlm kesenangan *cieeh ^^

Dan sekarang, aku udh gede, udh cukup dewasa, masih sering trauma dgn kejadian itu. Kalo lg jalan di jalan kendaraan atau lagi mau nyebrang, nggak tau knp kepalaku tiba2 sempoyongan, atau kadang sedikit pusing, seolah2 badanku ketarik sama aspal *ada2 aja! Makanya, aku lebih seneng jalan di jalanan biasa, kalo kata org betawi ‘jalan ngampung’, pokoknya jalan yg nggak begitu ramai.haduhh…aku jadi org yg soliter gini deh…. L

10.8.11

My Traumas

Trauma. Suatu kejadian (buruk), yg bisa bikin orang yg mengalaminya itu kapok, pobia, takut, cemas dengan kejadian yg pernah dialaminya itu. Orang yg pernah mengalami suatu kejadian buruk pasti ngerasain hal itu semua, dan selalu merasa khawatir kejadian itu terulang lagi. Bahkan dalam keadaan aman pun, orang tersebut bisa terbayang kejadian itu terulang lagi.

Menurutku, besar kecilnya trauma yg dialami seseorang, tergantung dari tingkat ketakutan orang yg bersangkutan terhadap kejadian yg dialaminya.

Contonya aja aku sendiri, yg dari kecil sudah mengalami trauma karena beberapa kejadian yg memang membuatku nggak aman dan membahayakan.

Waktu baru duduk di bangku SD, kelas 1, sekolahku mengadakan suntik…...(ah lupa suntik apa, yg jls bkn suntik bius), di mana dokter dan asistennya datang ke sekolahku untuk nyuntikin anak2 polos seperti kami.

Kedapatanlah giliranku. Seperti anak2 yg lainnya, aku jg ketakutan lihat jarum suntik di tangan dokter. Aku selalu berimajinasi, dokter itu memegang suntikan bak penjahat mengacungkan pistol sambil meniup ujung pistol xD *emang gtu kan yah gayanya dokter mau nyuntik

Saat jarum suntik itu secara perlahan menembus kulitku, masih baik2 aja. Lalu setelah jarum itu ditariknya oleh dokter, apa yg terjadi!!? Darahku keluar mengalir cukup deras. OH NO!! mukaku langsung pucet, aku gemetar karena ketakutan. Bu dokter panik mencari kapas untuk membalut darahku, tapi kapas yg tersedia nggak cukup untuk menampung aliran darahku, huhuu… serem banget lihatnya x( , tapi dokternya nggak menjelaskan apa2. Setelah salah satu ibu temanku yg peduli denganku menanyakan kpd dokter “lho bu, itu kenapa qo bisa begitu!!?” dokternya hanya menjawab “….euuh…, nggak tau bu, mungkin dia tegang”. Trs dokter itu nggak memberiku suatu apaa gtu yg bisa bikin aku lebih tenang. Dokter yg tak bertanggung jawab itu berlalu dgn menyuntik kembali korban selanjutnya.

Karena memang aku pendiam sudah bawaan dari lahir (ehm), selama darahku masih mengalir, sedangkan dokter nggak berbuat apa2, aku pergi keluar kelas, diaaaamm aja, nggak nangis, nggak teriak, pokoknya aku diem aja, bukannya knp, itu karena ketakutan.

Seorang ibunya temanku yg peduli tadi dgnku menghampiriku, aku disuruh duduk dan ditanya2 trs gmn rasanya. Aku cuma diem aja. Mungkin ibu itu mengerti perasaanku di saat itu, lalu ibu wali kelasku datang, mungkin ada yg mengadukan kejadian itu.

Pada akhirnya, aku disuruh pulang oleh wali kelasku. Ibu yg tadi menawarkanku untuk mengantarku, tapi krn aku pemalu (cuihh), aku menggelengkan kepala sebagai tanda ‘nggak usah deh bu, aku malu’ haha. Tapi krn mereka, ibu wali kelas dan ibu itu tadi, khawatir aku knp2 di jalan, maka si ibu tetap mengantarku pulang. Tentunya ank si ibu jg diajak, masa ank org diantar, ank sendiri ditinggal xD

Sepanjang jalan aku malu karena dilihat orang2 lengan bajuku dilumuri darah. Mungkin org2 pikir aku abis kecelakaan :D

Dan sejak kejadian itulah, aku jadi pobia sama yg namanya suntikan. Aku paling nggak suka divonis harus disuntik kalau lg ke dokter. Dan trauma ini sampai sekarang, diumurku yg terbilang cukup tua ini. Lihat suntikan aja aku udah lemes, dan ngerasa tanganku udah pegal duluan *padahal blm diapa-apain

Kalau terpaksa harus disuntik, aku nggak akn mau lihat jarum suntik itu menembus kulitku, aku merem semerem-meremnya >.< , kalau bs teriak ya aku teriak :D *memalukan

Ini baru satu dr sekian ceritaku mengenai trauma atas kejadian buruk masa lalu.
Cerita yg lainnya, akn ku ceritakan di lain judul ;)